PERILAKU KONSUMSI dalam EKONOMI MAKRO

Pada dasarnya, manusia melakukan kegiatan konsumsi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, baik jasmani maupun rohani agar eksistensinya terjaga. Perilaku setiap individu dalam melakukan konsumsi jelas sangat berbeda karena kebutuhan setiap individu tersebut juga berbeda. Perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh berbedanya pendapatan dan latar belakang. Begitulah teori yang dijelaskan dalam ekonomi konvensional. Namun, lain halnya dalam Islam. Dalam Islam, diatur segenap perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Termasuk di dalamnya masalah konsumsi.

Prinsip Konsumsi dalam Islam
Menurut Abdul Mannan, dalam melakukan konsumsi terdapat lima prinsip dasar, yaitu:
1. Prinsip keadilan
Artinya, sesuatu yang dikonsumsi itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan dengan hukum.
2. Prinsip kebersihan
Dalam al-Qur’an maupun Sunnah disebutkan bahwa makanan itu harus baik atau cocok untuk dikonsumsi, tidak kotor, ataupun menjijikkan sehingga merusak selera.
3. Prinsip kesederhanaan
Artinya, dalam mengonsumsi sesuatu tidak berlebih-lebihan. Hal ini dijelaskan antara lain dalam Q.S. al-A’raaf ayat 31.
“…..makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
4. Prinsip kemurahan hati
5. Prinsip moralitas

Selain itu, dalam berkonsumsi seorang muslim juga mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Manusia tidak mampu sepenuhnya mengatur detail permasalahan ekonomi masyarakat atau negara.
2. Dalam konsep Islam pola konsumsi dibentuk oleh kebutuhan.
3. Dalam berkonsumsi seorang muslim harus menyadari bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat.

Batasan Konsumsi dalam Islam
Bagi seorang muslim, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Tolak ukur keimanan menjadi sangat penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung memengaruhi kepribadian manusia, baik dalam bentuk perilaku, gaya hidup, selera, maupun sikap terhadap sesama manusia. Keimanan sangat berpengaruh terhadap sifat, kuantitas, dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Dengan adanya keimanan, seorang individu akan berhati-hati dalam mengonsumsi pendapatannya.
Misalnya, seorang pekerja berpendapatan 3 juta sebulan. Total konsumsi pokoknya selama sebulan adalah 1,5 juta. Sisa pendapatannya bisa saja ia manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersiernya. Tetapi karena faktor keimanan, ia lebih memilih untuk melakukan amal saleh, baik itu untuk zakat maupun sedekah.
Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 168-169 disebutkan bahwa:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Sesungguhnya setan hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Batasan konsumsi di atas tidak hanya berlaku bagi makanan dan minuman, tetapi juga mencakup jenis-jenis komoditi lainnya. Quraish Shihab menjelaskan dalam Tafsir al-Misbah, komoditi yang haram itu ada dua, yaitu haram karena zatnya dan haram karena sesuatu yang bukan dari zatnya. Haram karena zatnya, seperti babi dan darah. Haram karena sesuatu yang bukan dari zatnya, seperti makanan yang tidak diizinkan oleh pemiliknya untuk dimakan dan berdampak negatif.

Konsumsi Agregat dalam Ekonomi Islam
Secara makro Islam, perekonomian terdiri dari dua karakteristik yang berbeda, yaitu muzakki dan mustahiq. Muzakki adalah golongan pembayar zakat. Sedangkan, mustahiq adalah golongan penerima zakat. Dua golongan ini mempunyai model konsumsi yang berbeda.
Golongan pertama, final spendingnya adalah Cz (total konsumsi muzakki) dikurangi Zy (zakat pendapatan), In (infak), Sh (Shadaqah), dan Wf (Wakaf). Golongan kedua, final spendingnya adalah Z (zakat yang diterima) atau Y (pendapatan) ditambah Z. Jika dibuat persamaan adalah sebagai berikut.

FS = Cz – (Zy + In + Sh + Wf) …(1)
FS = Z …(2)
FS = Y + Z…(3)

Persamaan (2) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori fakir, ibnussabil, dan fisabilillah. Tiga kategori ini tidak memiliki pendapatan sehingga Co (konsumsi primer)-nya sama dengan zakat yang diterima. Sedangkan persamaan (3) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori miskin. Kategori ini memiliki pendapatan tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehingga harus dipenuhi oleh zakat.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat yang diterima oleh mustahiq menentukan tingkat konsumsinya. Sedangkan bagi muzakki, zakat akan mengurangi final spending-nya. Tetapi hal itu dirasa tidak memberatkan karena faktor keimanan para muzakki tersebut di mana perilaku konsumsi mereka sangat dipengaruhi. Motif utama konsumsi mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tersier, tetapi juga kebutuhan untuk beramal shaleh.

Sikap Sederhana
Islam sangat menganjurkan untuk hidup sederhana. Sederhana di sini bukan berarti pelit atau menyiksa diri dengan hidup serba kekurangan. Sederhana di sini, maksudnya adalah hidup sewajarnya. Jadi dalam memenuhi kebutuhannya, seorang muslim tidak boleh berlebih-lebihan.
Syariat Islam mengakui prinsip “individu bebas menafkahkan hartanya” dalam hal kebaikan yang dihalalkan Allah. Namun, jika merusak kemaslahatan orang banyak, hal tersebut dilarang. Ibnul Jauzi dalam bukunya Sirah Umar bin Khattab mengisahkan bahwa Umar melarang rakyatnya memakan daging dua hari berturut-turut. Alasannya, daging di pasar pada masa itu sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan seluruh rakyat di Madinah.
Bila sifat sederhana dituntut dalam kehidupan pribadi, maka ia juga dituntut dalam kehidupan bernegara, terutama dalam membelanjakan uang negara. Hal ini berlaku mulai dari kepala negara, menteri, gubernur, sampai jajaran tingkat bawah. Para pemimpin seharusnya menjadi suri tauladan bagi rakyat.

Referensi:
1. Abdul Mannan. 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Dana Bhakti Wakaf: Yogyakarta.
2. Ali Sakti. 2007. Analisis Teori Ekonomi Islam Jawaban atas Kekacauan Ekonomi Modern. AQSA Publishing: Jakarta.
3. Eko Suprayitno. 2005. Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional. Graha Ilmu: Yogyakarta.
4. Heri Sudarsono. 2004. Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar. Ekonisia: Yogyakarta.
5. Muhammad Muflih. 2005. Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam. Rajawali Press: Jakarta.
6. Yusuf Qardhawi. 1997. Norma dan Etika Ekonomi Islam. Gema Insani Press: Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: