ALUR KERJA EIB..^^

hanya sekedar iseng menuju Ujian Praktikum Bank Mini..^^

Alur Kerja Bank Mini

1. Pembukaan Bank.
2. Log in ke bagian masing-masing. Caranya:
1) CS > user id: 00, kode cabang: 999, username: cs, password: cs
2) Teller > user id: 01, kode cabang: 999, username: teller, password: teller
3) Deposito > user id: 03, kode cabang: 999, username: deposito, password: deposito
4) Pembiayaan > user id: 04, kode cabang: 999, username: pembiayaan, password: pembiayaan
5) Umum > user id: 05, kode cabang: 999, username: umum, password: umum
6) MO > user id: 90, kode cabang: 999, username: super1, password: super1
3. MO dan Teller menghitung keperluan uang operasional harian untuk diambil dari Khasanah. Caranya: pembiayaan + umum + penarikan tunai – pembukaan rekening – setoran tabungan – deposito
4. Teller membuat slip penarikan untuk mengambil uang dari Khasanah.
5. MO menginput transaksi pengambilan uang dari Khasanah. Caranya: Log in ke Umum (user id: 05, kode cabang: 999, username: umum, password: umum). Pilih proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 55555555 > enter > kode ledger: khasanah > enter > kode transaksi: kredit lawan teller (pengisian kas teller) > enter > nominal: ??? > proses
6. Teller menginput kontra transaksinya. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode ledger: kas teller > enter > kode transaksi: debet lawan umum (pengisian kas teller) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang MO.
7. Umum membuat slip penarikan untuk meminta uang ke teller untuk pengisian kas kecilnya.
8. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: kredit lawan umum (pengisian kas kecil) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang Umum. Uang diberi ke Umum.
9. Umum menginput kontra transaksinya. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 55555555 > enter > kode transaksi: debet lawan teller (pengisian kas kecil) > enter > nominal: ??? > proses
10. Umum langsung menginput transaksi hariannya. Caranya: 1) proses > SIT Bagian > sistem input transaksi umum > tambah > no voucher: 55555555 > enter > kode ledger: kas kecil > enter > kode transaksi: kredit lawan umum (kas kecil) > enter > nominal: total biaya > enter > tambah (di samping nilai nominal). 2) no voucher: 55555555 > enter > kode ledger: disesuaikan dengan soal > enter > kode transaksi: 550 (keterangan disesuaikan dengan soal) > enter > nominal: ??? > tambah (di samping nilai nominal).
11. Setelah selesai menginput transaksi secara keseluruhan > balance > tambah/proses (di pojok kiri bawah).
12. Jika ada sisa kas kecil pada Umum, maka harus dikembalikan pada Teller.
13. Umum membuat slip setoran. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: debet lawan umum (pengembalian kas kecil) > enter > nominal: ??? > proses.
14. Umum menginput kontra transaksinya. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 55555555 > enter > kode transaksi: kredit lawan teller (pengembalian kas kecil) > enter > nominal: ??? > proses
15. Umum membuat tiket debet/kredit berdasarkan yang ada di menu print > teller/umum/sundries > tiket debet/kredit.
16. Selagi Umum bekerja, datang nasabah.
17. Nasabah pembukaan rekening datang ke CS. CS menginput data nasabah. Caranya: 1) maintenance > data customer > tambah > input data (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya) > proses. 2) maintenance > data tabungan > tambah > input data (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya kecuali yang ada tanda panah ke bawahnya) > proses.
18. Nasabah membuat slip setoran rekening. Nomor rekening diberitahu CS setelah menginput data nasabah.
19. Nasabah datang ke teller, beri uangnya. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: ??? > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: setor tunai tabungan (a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang nasabah.
20. Nasabah setoran tabungan datang ke teller, beri uangnya. Teller menginput transaksi. Caranya: idem.
21. Nasabah penarikan tabungan datang ke teller. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: ??? > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: 121 (a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang nasabah. Uang diberi ke nasabah.
22. Nasabah deposito baru datang ke CS. CS menginput data nasabah. Caranya: 1) idem. 2) maintenance > data deposito > tambah > input data (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya) > proses.
23. Nasabah membuat slip setoran rekening. Nomor rekening diberitahu CS setelah menginput data nasabah.
24. Nasabah datang ke teller, beri uangnya. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: debet lawan deposito (setor deposito a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang nasabah.
25. Deposito menginput kontra transaksinya. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor referensi: ??? > enter > nomor voucher: 33333333 > kode transaksi: kredit lawan teller (a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses
26. Setelah selesai semua transaksi deposito, maka deposito membuat tiket debet/kredit berdasarkan yang ada di menu print > rekening deposito > tiket debet/kredit.
27. Nasabah pembiayaan datang ke pembiayaan. Pembiayaan menginput data nasabah. Caranya:
1) maintenance > data customer > tambah > input data (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya) > proses. Catat nomor customer!
2) maintenance > data tabungan > tambah > input data (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya) > proses. Kode produk: 22! Catat no rek!
3) maintenance > data pembiayaan > master pembiayaan > tambah > input data referensi (jangan lupa pakai enter untuk ke baris berikutnya) > input data set kode BI > input data Loan Ledger > proses. Catat nomor referensi!
28. Kemudian direalisasi, caranya: proses > sistem input transaksi > nomor referensi > enter > realisasi > no voucher: 44444444 > enter > plafon: ??? > enter > biaya administrasi: 100.000 > enter > biaya provisi: 0 > enter > biaya asuransi: 150.000 > enter > biaya lain-lain: 0 > enter > kode transaksi: realisasi via tabungan (a.n. ???) > proses. Catat total plafon – biaya2!
29. Pembiayaan/nasabah membuat slip penarikan untuk realisasi. Total penarikan = (total plafon – biaya2) – total angsuran.
30. Nasabah ke teller melakukan penarikan. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: ??? > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: 121 (a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang nasabah. Uang diberi ke nasabah.
31. MO memprint daftar tunggakan di menu print > rekening pembiayaan > daftar tunggakan > kumulatif > kumulatif produk.
32. Nasabah yang ada di daftar tersebut, membuat slip setoran berdasarkan nominal tunggakan. Kemudian datang ke teller. Teller menginput transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: ??? > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode transaksi: setor tunai tabungan (a.n. ???) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang nasabah.
33. Pembiayaan menginput kontra transaksi. Caranya: proses > sistem input transaksi > nomor referensi: ??? > enter > double click pada baris pertama tabel angsuran > no voucher: 44444444 > enter > kode transaksi: pembayaran via tabungan (a.n. ???) > proses.
34. Setelah semua transaksi selesai, pembiayaan membuat tiket debet/kredit berdasarkan yang ada di menu print > rekening pembiayaan > tiket debet/kredit.
35. MO selalu mengawasi kegiatan yang dilakukan masing-masing staffnya.
36. Setelah semua transaksi selesai, jika ada uang sisa di teller, maka harus dikembalikan ke khasanah.
37. Teller membuat slip setoran/tiket debet&kredit dan MO menginput transaksi. Caranya: Log in ke Umum (user id: 05, kode cabang: 999, username: umum, password: umum). Pilih proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 55555555 > enter > kode ledger: khasanah > enter > kode transaksi: debet lawan teller (pengembalian kas teller) > enter > nominal: ??? > proses.
38. Teller menginput kontra transaksinya. Caranya: proses > sistem input transaksi > tambah > nomor rekening: 000 > enter > nomor voucher: 11111111 > enter > kode ledger: kas teller > enter > kode transaksi: kredit lawan umum (pengembalian kas teller) > enter > nominal: ??? > proses > otorisasi. Slip dicap. Slip asli dipegang MO.
39. Kemudian Teller membuat teller blotter berdasarkan data yang ada di print > teller/umum/sundries > teller blotter.
40. Untuk Otorisasi, caranya: MO Log in ke Usotor (user id: 80, kode cabang: 999, username: usotor, password: usotor) > proses > otorisasi transaksi > otorisasi.
41. Untuk POD (MO yang melakukan), caranya: proses > proses akhir hari > proses.
42. Sebelum POD, MO memprint: 1) transaksi harian tabungan, 2) posisi akhir tiap produk, 3) saldo akhir, 4) jurnal gabungan, 5) jurnal antarbagian, 6) neraca percobaan.
43. Setelah POD, MO memprint: neraca aktiva/pasiva.
44. Penutupan Bank.

UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2008
TENTANG
PERBANKAN SYARIAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa sejalan dengan tujuan pembangunan nasional
Indonesia untuk mencapai terciptanya masyarakat adil dan
makmur berdasarkan demokrasi ekonomi, dikembangkan
sistem ekonomi yang berlandaskan pada nilai keadilan,
kebersamaan, pemerataan, dan kemanfaatan yang sesuai
dengan prinsip syariah;
b. bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia akan jasa-jasa
perbankan syariah semakin meningkat;
c. bahwa perbankan syariah memiliki kekhususan dibandingkan
dengan perbankan konvensional;
d. bahwa pengaturan mengenai perbankan syariah di dalam
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 belum spesifik sehingga perlu diatur secara
khusus dalam suatu undang-undang tersendiri;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu
membentuk Undang-Undang tentang Perbankan Syariah;
Mengingat: 1. Pasal 20 dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3790);
3. Undang-Undang …
– 2 –
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4357);
4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga
Penjamin Simpanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4420);
5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4756);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: UNDANG–UNDANG TENTANG PERBANKAN SYARIAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut
tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam
melaksanakan kegiatan usahanya.
2. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.
3. Bank …
– 3 –
3. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
4. Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan
kegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan
jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank
Perkreditan Rakyat.
5. Bank Umum Konvensional adalah Bank Konvensional
yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran.
6. Bank Perkreditan Rakyat adalah Bank Konvensional yang
dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran.
7. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan
usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut
jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.
8. Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
9. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariah
yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam
lalu lintas pembayaran.
10. Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS,
adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum
Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari
kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit kerja di kantor
cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri
yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang
pembantu syariah dan/atau unit syariah.
11. Kantor Cabang adalah kantor cabang Bank Syariah yang
bertanggung jawab kepada kantor pusat Bank yang
bersangkutan dengan alamat tempat usaha yang jelas
sesuai dengan lokasi kantor cabang tersebut melakukan
usahanya.
12. Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam
kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan
fatwa di bidang syariah.
13. Akad …
– 4 –
13. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah
atau UUS dan pihak lain yang memuat adanya hak dan
kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan
Prinsip Syariah.
14. Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan keterangan mengenai Nasabah
Penyimpan dan Simpananannya serta Nasabah Investor
dan Investasinya.
15. Pihak Terafiliasi adalah:
a. komisaris, direksi atau kuasanya, pejabat, dan
karyawan Bank Syariah atau Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS;
b. pihak yang memberikan jasanya kepada Bank
Syariah atau UUS, antara lain Dewan Pengawas
Syariah, akuntan publik, penilai, dan konsultan
hukum; dan/atau
c. pihak yang menurut penilaian Bank Indonesia turut
serta memengaruhi pengelolaan Bank Syariah atau
UUS, baik langsung maupun tidak langsung, antara
lain pengendali bank, pemegang saham dan
keluarganya, keluarga komisaris, dan keluarga
direksi.
16. Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa Bank
Syariah dan/atau UUS.
17. Nasabah Penyimpan adalah Nasabah yang menempatkan
dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk
Simpanan berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau
UUS dan Nasabah yang bersangkutan.
18. Nasabah Investor adalah Nasabah yang menempatkan
dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk
Investasi berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau
UUS dan Nasabah yang bersangkutan.
19. Nasabah Penerima Fasilitas adalah Nasabah yang
memperoleh fasilitas dana atau yang dipersamakan
dengan itu, berdasarkan Prinsip Syariah.
20. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh Nasabah
kepada Bank Syariah dan/atau UUS berdasarkan Akad
wadi’ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan
Prinsip Syariah dalam bentuk Giro, Tabungan, atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
21. Tabungan …
– 5 –
21. Tabungan adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi’ah
atau Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau
Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah
yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi
tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat
lainnya yang dipersamakan dengan itu.
22. Deposito adalah Investasi dana berdasarkan Akad
mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan
dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat
dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan Akad antara
Nasabah Penyimpan dan Bank Syariah dan/atau UUS.
23. Giro adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi’ah atau
Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah
yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan
menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah
pembayaran lainnya, atau dengan perintah
pemindahbukuan.
24. Investasi adalah dana yang dipercayakan oleh Nasabah
kepada Bank Syariah dan/atau UUS berdasarkan Akad
mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan
dengan Prinsip Syariah dalam bentuk Deposito,
Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan
dengan itu.
25. Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang
dipersamakan dengan itu berupa:
a. transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan
musyarakah;
b. transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau
sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik;
c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah,
salam, dan istishna’;
d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang
qardh; dan
e. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah
untuk transaksi multijasa
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank
Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan
pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk
mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu
tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi
hasil.
26. Agunan . . .
– 6 –
26. Agunan adalah jaminan tambahan, baik berupa benda
bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan
oleh pemilik Agunan kepada Bank Syariah dan/atau UUS,
guna menjamin pelunasan kewajiban Nasabah Penerima
Fasilitas.
27. Penitipan adalah penyimpanan harta berdasarkan Akad
antara Bank Umum Syariah atau UUS dan penitip,
dengan ketentuan Bank Umum Syariah atau UUS yang
bersangkutan tidak mempunyai hak kepemilikan atas
harta tersebut.
28. Wali Amanat adalah Bank Umum Syariah yang mewakili
kepentingan pemegang surat berharga berdasarkan Akad
wakalah antara Bank Umum Syariah yang bersangkutan
dan pemegang surat berharga tersebut.
29. Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan
oleh satu Bank atau lebih untuk menggabungkan diri
dengan Bank lain yang telah ada yang mengakibatkan
aktiva dan pasiva dari Bank yang menggabungkan diri
beralih karena hukum kepada Bank yang menerima
penggabungan dan selanjutnya status badan hukum
Bank yang menggabungkan diri berakhir karena hukum.
30. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh
dua Bank atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara
mendirikan satu Bank baru yang karena hukum
memperoleh aktiva dan pasiva dari Bank yang
meleburkan diri dan status badan hukum Bank yang
meleburkan diri berakhir karena hukum.
31. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan
untuk mengambil alih saham Bank yang mengakibatkan
beralihnya pengendalian atas Bank tersebut.
32. Pemisahan adalah pemisahan usaha dari satu Bank
menjadi dua badan usaha atau lebih, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN FUNGSI
Pasal 2
Perbankan Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya
berasaskan Prinsip Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip
kehati-hatian.
Pasal 3 . . .
– 7 –
Pasal 3
Perbankan Syariah bertujuan menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan,
kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.
Pasal 4
(1) Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi
menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.
(2) Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial
dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang
berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial
lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola
zakat.
(3) Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang
berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada
pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi
wakaf (wakif).
(4) Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB III
PERIZINAN, BENTUK BADAN HUKUM, ANGGARAN DASAR,
DAN KEPEMILIKAN
Bagian Kesatu
Perizinan
Pasal 5
(1) Setiap pihak yang akan melakukan kegiatan usaha Bank
Syariah atau UUS wajib terlebih dahulu memperoleh izin
usaha sebagai Bank Syariah atau UUS dari Bank Indonesia.
(2) Untuk memperoleh izin usaha Bank Syariah harus
memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang:
a. susunan organisasi dan kepengurusan;
b. permodalan;
c. kepemilikan;
d. keahlian di bidang Perbankan Syariah; dan
e. kelayakan usaha.
(3) Persyaratan .. .
.
– 8 –
(3) Persyaratan untuk memperoleh izin usaha UUS diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bank Indonesia.
(4) Bank Syariah yang telah mendapat izin usaha sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan dengan jelas
kata “syariah” pada penulisan nama banknya.
(5) Bank Umum Konvensional yang telah mendapat izin usaha
UUS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mencantumkan dengan jelas frase “Unit Usaha Syariah”
setelah nama Bank pada kantor UUS yang bersangkutan.
(6) Bank Konvensional hanya dapat mengubah kegiatan
usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dengan izin Bank
Indonesia.
(7) Bank Umum Syariah tidak dapat dikonversi menjadi Bank
Umum Konvensional.
(8) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah tidak dapat dikonversi
menjadi Bank Perkreditan Rakyat.
(9) Bank Umum Konvensional yang akan melakukan kegiatan
usaha berdasarkan Prinsip Syariah wajib membuka UUS di
kantor pusat Bank dengan izin Bank Indonesia.
Pasal 6
(1) Pembukaan Kantor Cabang Bank Syariah dan UUS hanya
dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.
(2) Pembukaan Kantor Cabang, kantor perwakilan, dan jenisjenis
kantor lainnya di luar negeri oleh Bank Umum Syariah
dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS hanya
dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.
(3) Pembukaan kantor di bawah Kantor Cabang, wajib
dilaporkan dan hanya dapat dilakukan setelah mendapat
surat penegasan dari Bank Indonesia.
(4) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah tidak diizinkan untuk
membuka Kantor Cabang, kantor perwakilan, dan jenis
kantor lainnya di luar negeri.
Bagian Kedua
Bentuk Badan Hukum
Pasal 7
Bentuk badan hukum Bank Syariah adalah perseroan terbatas.
Bagian …
– 9 –
Bagian Ketiga
Anggaran Dasar
Pasal 8
Di dalam anggaran dasar Bank Syariah selain memenuhi
persyaratan anggaran dasar sebagaimana diatur dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan memuat pula ketentuan:
a. pengangkatan anggota direksi dan komisaris harus
mendapatkan persetujuan Bank Indonesia;
b. Rapat Umum Pemegang Saham Bank Syariah harus
menetapkan tugas manajemen, remunerasi komisaris dan
direksi, laporan pertanggungjawaban tahunan, penunjukkan
dan biaya jasa akuntan publik, penggunaan laba, dan hal-hal
lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia.
Bagian Keempat
Pendirian dan Kepemilikan Bank Syariah
Pasal 9
(1) Bank Umum Syariah hanya dapat didirikan dan/atau
dimiliki oleh:
a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum
Indonesia;
b. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum
Indonesia dengan warga negara asing dan/atau badan
hukum asing secara kemitraan; atau
c. pemerintah daerah.
(2) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah hanya dapat didirikan
dan/atau dimiliki oleh:
a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum
Indonesia yang seluruh pemiliknya warga negara
Indonesia;
b. pemerintah daerah; atau
c. dua pihak atau lebih sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b.
(3) Maksimum kepemilikan Bank Umum Syariah oleh warga
negara asing dan/atau badan hukum asing diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 10 …
– 10 –
Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan, bentuk badan
hukum, anggaran dasar, serta pendirian dan kepemilikan Bank
Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan
Pasal 9 diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 11
Besarnya modal disetor minimum untuk mendirikan Bank
Syariah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 12
Saham Bank Syariah hanya dapat diterbitkan dalam bentuk
saham atas nama.
Pasal 13
Bank Umum Syariah dapat melakukan penawaran umum efek
melalui pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip
Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal.
Pasal 14
(1) Warga negara Indonesia, warga negara asing, badan hukum
Indonesia, atau badan hukum asing dapat memiliki atau
membeli saham Bank Umum Syariah secara langsung atau
melalui bursa efek.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 15
Perubahan kepemilikan Bank Syariah wajib memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 14.
Pasal 16
(1) UUS dapat menjadi Bank Umum Syariah tersendiri setelah
mendapat izin dari Bank Indonesia.
(2) Izin perubahan UUS menjadi Bank Umum Syariah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 17 . . .
– 11 –
Pasal 17
(1) Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Bank
Syariah wajib terlebih dahulu mendapat izin dari Bank
Indonesia.
(2) Dalam hal terjadi Penggabungan atau Peleburan Bank
Syariah dengan Bank lainnya, Bank hasil Penggabungan
atau Peleburan tersebut wajib menjadi Bank Syariah.
(3) Ketentuan mengenai Penggabungan, Peleburan, dan
Pengambilalihan Bank Syariah dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IV
JENIS DAN KEGIATAN USAHA, KELAYAKAN PENYALURAN DANA, DAN
LARANGAN BAGI BANK SYARIAH DAN UUS
Bagian Kesatu
Jenis dan Kegiatan Usaha
Pasal 18
Bank Syariah terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.
Pasal 19
(1) Kegiatan usaha Bank Umum Syariah meliputi:
a. menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa
Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi’ah
atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip
Syariah;
b. menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa
Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad
mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan
dengan Prinsip Syariah;
c. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad
mudharabah, Akad musyarakah, atau Akad lain yang
tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
d. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad
murabahah, Akad salam, Akad istishna’, atau Akad lain
yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
e. menyalurkan .. .
– 12 –
e. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau
Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip
Syariah;
f. menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak
atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad
ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah
muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah;
g. melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad
hawalah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan
Prinsip Syariah;
h. melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;
i. membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri
surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar
transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara
lain, seperti Akad ijarah, musyarakah, mudharabah,
murabahah, kafalah, atau hawalah;
j. membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah
yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank
Indonesia;
k. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga
dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau
antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah;
l. melakukan Penitipan untuk kepentingan pihak lain
berdasarkan suatu Akad yang berdasarkan Prinsip
Syariah;
m. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan
surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah;
n. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri
maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan
Prinsip Syariah;
o. melakukan fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan
Akad wakalah;
p. memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi
berdasarkan Prinsip Syariah; dan
q. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang
perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Kegiatan …
– 13 –
(2) Kegiatan usaha UUS meliputi:
a. menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa
Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi’ah
atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip
Syariah;
b. menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa
Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad
mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan
dengan Prinsip Syariah;
c. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad
mudharabah, Akad musyarakah, atau Akad lain yang
tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
d. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad
murabahah, Akad salam, Akad istishna’, atau Akad lain
yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
e. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau
Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip
Syariah;
f. menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak
atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad
ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah
muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah;
g. melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad
hawalah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan
Prinsip Syariah;
h. melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;
i. membeli dan menjual surat berharga pihak ketiga yang
diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan
Prinsip Syariah, antara lain, seperti Akad ijarah,
musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau
hawalah;
j. membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah
yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank
Indonesia;
k. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga
dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau
antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah;
l. menyediakan .. .
– 14 –
l. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan
surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah;
m. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri
maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan
Prinsip Syariah;
n. memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi
berdasarkan Prinsip Syariah; dan
o. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang
perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 20
(1) Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1), Bank Umum Syariah dapat pula:
a. melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip
Syariah;
b. melakukan kegiatan penyertaan modal pada Bank
Umum Syariah atau lembaga keuangan yang melakukan
kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah;
c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk
mengatasi akibat kegagalan Pembiayaan berdasarkan
Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali
penyertaannya;
d. bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun
berdasarkan Prinsip Syariah;
e. melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal;
f. menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang
berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan
sarana elektronik;
g. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan
surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip
Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui pasar uang;
h. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan
surat berharga jangka panjang berdasarkan Prinsip
Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui pasar modal; dan
i. menyediakan . . .
– 15 –
i. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha
Bank Umum Syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip
Syariah.
(2) Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (2), UUS dapat pula:
a. melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip
Syariah;
b. melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal;
c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk
mengatasi akibat kegagalan Pembiayaan berdasarkan
Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali
penyertaannya;
d. menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang
berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan
sarana elektronik;
e. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan
surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip
Syariah baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui pasar uang; dan
f. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha
Bank Umum Syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip
Syariah.
(3) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 21
Kegiatan usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah meliputi:
a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:
1. Simpanan berupa Tabungan atau yang dipersamakan
dengan itu berdasarkan Akad wadi’ah atau Akad lain
yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; dan
2. Investasi berupa Deposito atau Tabungan atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan
Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak
bertentangan dengan Prinsip Syariah;
b. menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk:
1. Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah
atau musyarakah;
2. Pembiayaan .. .
– 16 –
2. Pembiayaan berdasarkan Akad murabahah, salam, atau
istishna’;
3. Pembiayaan berdasarkan Akad qardh;
4. Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak
bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah atau
sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan
5. pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah;
c. menempatkan dana pada Bank Syariah lain dalam bentuk
titipan berdasarkan Akad wadi’ah atau Investasi
berdasarkan Akad mudharabah dan/atau Akad lain yang
tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
d. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri
maupun untuk kepentingan Nasabah melalui rekening Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah yang ada di Bank Umum
Syariah, Bank Umum Konvensional, dan UUS; dan
e. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank
Syariah lainnya yang sesuai dengan Prinsip Syariah
berdasarkan persetujuan Bank Indonesia.
Pasal 22
Setiap pihak dilarang melakukan kegiatan penghimpunan dana
dalam bentuk Simpanan atau Investasi berdasarkan Prinsip
Syariah tanpa izin terlebih dahulu dari Bank Indonesia, kecuali
diatur dalam undang-undang lain.
Bagian Kedua
Kelayakan Penyaluran Dana
Pasal 23
(1) Bank Syariah dan/atau UUS harus mempunyai keyakinan
atas kemauan dan kemampuan calon Nasabah Penerima
Fasilitas untuk melunasi seluruh kewajiban pada waktunya,
sebelum Bank Syariah dan/atau UUS menyalurkan dana
kepada Nasabah Penerima Fasilitas.
(2) Untuk memperoleh keyakinan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Bank Syariah dan/atau UUS wajib melakukan
penilaian yang saksama terhadap watak, kemampuan,
modal, Agunan, dan prospek usaha dari calon Nasabah
Penerima Fasilitas.
Bagian …
– 17 –
Bagian Ketiga
Larangan Bagi Bank Syariah dan UUS
Pasal 24
(1) Bank Umum Syariah dilarang:
a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan
Prinsip Syariah;
b. melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di
pasar modal;
c. melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b dan huruf c;
dan
d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali
sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.
(2) UUS dilarang:
a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan
Prinsip Syariah;
b. melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di
pasar modal;
c. melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) huruf c; dan
d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali
sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.
Pasal 25
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dilarang:
a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan
Prinsip Syariah;
b. menerima Simpanan berupa Giro dan ikut serta dalam lalu
lintas pembayaran;
c. melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali
penukaran uang asing dengan izin Bank Indonesia;
d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai
agen pemasaran produk asuransi syariah;
e. melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang
dibentuk untuk menanggulangi kesulitan likuiditas Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah; dan
f. melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21.
Pasal 26 . . .
– 18 –
Pasal 26
(1) Kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19,
Pasal 20, dan Pasal 21 dan/atau produk dan jasa syariah,
wajib tunduk kepada Prinsip Syariah.
(2) Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia.
(3) Fatwa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan
dalam Peraturan Bank Indonesia.
(4) Dalam rangka penyusunan Peraturan Bank Indonesia
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bank Indonesia
membentuk komite perbankan syariah.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan,
keanggotaan, dan tugas komite perbankan syariah
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
BAB V
PEMEGANG SAHAM PENGENDALI, DEWAN KOMISARIS,
DEWAN PENGAWAS SYARIAH, DIREKSI,
DAN TENAGA KERJA ASING
Bagian Kesatu
Pemegang Saham Pengendali
Pasal 27
(1) Calon pemegang saham pengendali Bank Syariah wajib lulus
uji kemampuan dan kepatutan yang dilakukan oleh Bank
Indonesia.
(2) Pemegang saham pengendali yang tidak lulus uji
kemampuan dan kepatutan wajib menurunkan kepemilikan
sahamnya menjadi paling banyak 10% (sepuluh persen).
(3) Dalam hal pemegang saham pengendali tidak menurunkan
kepemilikan sahamnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
maka:
a. hak suara pemegang saham pengendali tidak
diperhitungkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham;
b. hak suara pemegang saham pengendali tidak
diperhitungkan sebagai penghitungan kuorum atau
tidaknya Rapat Umum Pemegang Saham;
c. dividen . . .
– 19 –
c. deviden yang dapat dibayarkan kepada pemegang
saham pengendali paling banyak 10% (sepuluh persen)
dan sisanya dibayarkan setelah pemegang saham
pengendali tersebut mengalihkan kepemilikannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan
d. nama pemegang saham pengendali yang bersangkutan
diumumkan kepada publik melalui 2 (dua) media massa
yang mempunyai peredaran luas.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai uji kemampuan dan
kepatutan diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
Bagian Kedua
Dewan Komisaris dan Direksi
Pasal 28
Ketentuan mengenai syarat, jumlah, tugas, kewenangan,
tanggung jawab, serta hal lain yang menyangkut dewan komisaris
dan direksi Bank Syariah diatur dalam anggaran dasar Bank
Syariah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 29
(1) Dalam jajaran direksi Bank Syariah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 wajib terdapat 1 (satu) orang direktur yang
bertugas untuk memastikan kepatuhan Bank Syariah
terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan
peraturan perundang-undangan lainnya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas untuk memastikan
kepatuhan Bank Syariah terhadap pelaksanaan ketentuan
Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 30
(1) Calon dewan komisaris dan calon direksi wajib lulus uji
kemampuan dan kepatutan yang dilakukan oleh Bank
Indonesia.
(2) Uji kemampuan dan kepatutan terhadap komisaris dan
direksi yang melanggar integritas dan tidak memenuhi
kompetensi dilakukan oleh Bank Indonesia.
(3) Komisaris . . .
– 20 –
(3) Komisaris dan direksi yang tidak lulus uji kemampuan dan
kepatutan wajib melepaskan jabatannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai uji kemampuan dan
kepatutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 31
(1) Dalam menjalankan kegiatan Bank Syariah, direksi dapat
mengangkat pejabat eksekutif.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengangkatan pejabat
eksekutif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
Bagian Ketiga
Dewan Pengawas Syariah
Pasal 32
(1) Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah
dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.
(2) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas
rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
(3) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi
serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip
Syariah.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan
Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
Bagian Keempat
Penggunaan Tenaga Kerja Asing
Pasal 33
(1) Dalam menjalankan kegiatannya, Bank Syariah dapat
menggunakan tenaga kerja asing.
(2) Tata cara penggunaan tenaga kerja asing sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
BAB VI . . .
– 21 –
BAB VI
TATA KELOLA, PRINSIP KEHATI-HATIAN,
DAN PENGELOLAAN RISIKO PERBANKAN SYARIAH
Bagian Kesatu
Tata Kelola Perbankan Syariah
Pasal 34
(1) Bank Syariah dan UUS wajib menerapkan tata kelola yang
baik yang mencakup prinsip transparansi, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, profesional, dan kewajaran dalam
menjalankan kegiatan usahanya.
(2) Bank Syariah dan UUS wajib menyusun prosedur internal
mengenai pelaksanaan prinsip-prinsip sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kelola yang baik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
Bagian Kedua
Prinsip Kehati-hatian
Pasal 35
(1) Bank Syariah dan UUS dalam melakukan kegiatan usahanya
wajib menerapkan prinsip kehati-hatian.
(2) Bank Syariah dan UUS wajib menyampaikan kepada Bank
Indonesia laporan keuangan berupa neraca tahunan dan
perhitungan laba rugi tahunan serta penjelasannya yang
disusun berdasarkan prinsip akuntansi syariah yang berlaku
umum, serta laporan berkala lainnya, dalam waktu dan
bentuk yang diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
(3) Neraca dan perhitungan laba rugi tahunan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) wajib terlebih dahulu diaudit oleh
kantor akuntan publik.
(4) Bank Indonesia dapat menetapkan pengecualian terhadap
kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bagi Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.
(5) Bank Syariah wajib mengumumkan neraca dan laporan laba
rugi kepada publik dalam waktu dan bentuk yang ditentukan
oleh Bank Indonesia.
Pasal 36 . . .
– 22 –
Pasal 36
Dalam menyalurkan Pembiayaan dan melakukan kegiatan usaha
lainnya, Bank Syariah dan UUS wajib menempuh cara-cara yang
tidak merugikan Bank Syariah dan/atau UUS dan kepentingan
Nasabah yang mempercayakan dananya.
Pasal 37
(1) Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas
maksimum penyaluran dana berdasarkan Prinsip Syariah,
pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga
yang berbasis syariah, atau hal lain yang serupa, yang dapat
dilakukan oleh Bank Syariah dan UUS kepada Nasabah
Penerima Fasilitas atau sekelompok Nasabah Penerima
Fasilitas yang terkait, termasuk kepada perusahaan dalam
kelompok yang sama dengan Bank Syariah dan UUS yang
bersangkutan.
(2) Batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
boleh melebihi 30% (tiga puluh persen) dari modal Bank
Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
(3) Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas
maksimum penyaluran dana berdasarkan Prinsip Syariah,
pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga,
atau hal lain yang serupa yang dapat dilakukan oleh Bank
Syariah kepada:
a. pemegang saham yang memiliki 10% (sepuluh persen)
atau lebih dari modal disetor Bank Syariah;
b. anggota dewan komisaris;
c. anggota direksi;
d. keluarga dari pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, huruf b, dan huruf c;
e. pejabat bank lainnya; dan
f. perusahaan yang di dalamnya terdapat kepentingan dari
pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai
dengan huruf e.
(4) Batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak
boleh melebihi 20% (dua puluh persen) dari modal Bank
Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
(5) Pelaksanaan …
– 23 –
(5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (3) wajib dilaporkan sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Bagian Ketiga
Kewajiban Pengelolaan Risiko
Pasal 38
(1) Bank Syariah dan UUS wajib menerapkan manajemen risiko,
prinsip mengenal nasabah, dan perlindungan nasabah.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 39
Bank Syariah dan UUS wajib menjelaskan kepada Nasabah
mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan
dengan transaksi Nasabah yang dilakukan melalui Bank Syariah
dan/atau UUS.
Pasal 40
(1) Dalam hal Nasabah Penerima Fasilitas tidak memenuhi
kewajibannya, Bank Syariah dan UUS dapat membeli
sebagian atau seluruh Agunan, baik melalui maupun di luar
pelelangan, berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh
pemilik Agunan atau berdasarkan pemberian kuasa untuk
menjual dari pemilik Agunan, dengan ketentuan Agunan
yang dibeli tersebut wajib dicairkan selambat-lambatnya
dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.
(2) Bank Syariah dan UUS harus memperhitungkan harga
pembelian Agunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dengan kewajiban Nasabah kepada Bank Syariah dan UUS
yang bersangkutan.
(3) Dalam hal harga pembelian Agunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) melebihi jumlah kewajiban Nasabah kepada
Bank Syariah dan UUS, selisih kelebihan jumlah tersebut
harus dikembalikan kepada Nasabah setelah dikurangi
dengan biaya lelang dan biaya lain yang langsung terkait
dengan proses pembelian Agunan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembelian Agunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
BAB VII . . .
– 24 –
BAB VII
RAHASIA BANK
Bagian Kesatu
Cakupan Rahasia Bank
Pasal 41
Bank dan Pihak Terafiliasi wajib merahasiakan keterangan
mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanannya serta Nasabah
Investor dan Investasinya.
Bagian Kedua
Pengecualian Rahasia Bank
Pasal 42
(1) Untuk kepentingan penyidikan pidana perpajakan, pimpinan
Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan
berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada Bank
agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti
tertulis serta surat mengenai keadaan keuangan Nasabah
Penyimpan atau Nasabah Investor tertentu kepada pejabat
pajak.
(2) Perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
menyebutkan nama pejabat pajak, nama nasabah wajib
pajak, dan kasus yang dikehendaki keterangannya.
Pasal 43
(1) Untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana,
pimpinan Bank Indonesia dapat memberikan izin kepada
polisi, jaksa, hakim, atau penyidik lain yang diberi wewenang
berdasarkan undang-undang untuk memperoleh keterangan
dari Bank mengenai Simpanan atau Investasi tersangka atau
terdakwa pada Bank.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan secara
tertulis atas permintaan tertulis dari Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah
Agung, atau pimpinan instansi yang diberi wewenang untuk
melakukan penyidikan.
(3) Permintaan . . .
– 25 –
(3) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
menyebutkan nama dan jabatan penyidik, jaksa, atau hakim,
nama tersangka atau terdakwa, alasan diperlukannya
keterangan, dan hubungan perkara pidana yang
bersangkutan dengan keterangan yang diperlukan.
Pasal 44
Bank wajib memberikan keterangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 dan Pasal 43.
Pasal 45
Dalam perkara perdata antara Bank dan Nasabahnya, direksi
Bank yang bersangkutan dapat menginformasikan kepada
pengadilan tentang keadaan keuangan Nasabah yang
bersangkutan dan memberikan keterangan lain yang relevan
dengan perkara tersebut.
Pasal 46
(1) Dalam rangka tukar-menukar informasi antarbank, direksi
Bank dapat memberitahukan keadaan keuangan
Nasabahnya kepada Bank lain.
(2) Ketentuan mengenai tukar-menukar informasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bank
Indonesia.
Pasal 47
Atas permintaan, persetujuan, atau kuasa dari Nasabah
Penyimpan atau Nasabah Investor yang dibuat secara tertulis,
Bank wajib memberikan keterangan mengenai Simpanan
Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor pada Bank yang
bersangkutan kepada pihak yang ditunjuk oleh Nasabah
Penyimpan atau Nasabah Investor tersebut.
Pasal 48
Dalam hal Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor telah
meninggal dunia, ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan
atau Nasabah Investor yang bersangkutan berhak memperoleh
keterangan mengenai Simpanan Nasabah Penyimpan atau
Nasabah Investor tersebut.
Pasal 49 …
– 26 –
Pasal 49
Pihak yang merasa dirugikan oleh keterangan yang diberikan oleh
Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, Pasal 43, Pasal 45,
dan Pasal 46, berhak untuk mengetahui isi keterangan tersebut
dan meminta pembetulan jika terdapat kesalahan dalam
keterangan yang diberikan.
BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 50
Pembinaan dan pengawasan Bank Syariah dan UUS dilakukan
oleh Bank Indonesia.
Pasal 51
(1) Bank Syariah dan UUS wajib memelihara tingkat kesehatan
yang meliputi sekurang-kurangnya mengenai kecukupan
modal, kualitas aset, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas,
kualitas manajemen yang menggambarkan kapabilitas dalam
aspek keuangan, kepatuhan terhadap Prinsip Syariah dan
prinsip manajemen Islami, serta aspek lainnya yang
berhubungan dengan usaha Bank Syariah dan UUS.
(2) Kriteria tingkat kesehatan dan ketentuan yang wajib
dipenuhi oleh Bank Syariah dan UUS sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
Pasal 52
(1) Bank Syariah dan UUS wajib menyampaikan segala
keterangan dan penjelasan mengenai usahanya kepada Bank
Indonesia menurut tata cara yang ditetapkan dengan
Peraturan Bank Indonesia.
(2) Bank Syariah dan UUS, atas permintaan Bank Indonesia,
wajib memberikan kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku
dan berkas-berkas yang ada padanya, serta wajib
memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka
memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen,
dan penjelasan yang dilaporkan oleh Bank Syariah dan UUS
yang bersangkutan.
(3) Dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Bank Indonesia
berwenang:
a. memeriksa . . .
– 27 –
a. memeriksa dan mengambil data/dokumen dari setiap
tempat yang terkait dengan Bank;
b. memeriksa dan mengambil data/dokumen dan
keterangan dari setiap pihak yang menurut penilaian
Bank Indonesia memiliki pengaruh terhadap Bank; dan
c. memerintahkan Bank melakukan pemblokiran rekening
tertentu, baik rekening Simpanan maupun rekening
Pembiayaan.
(4) Keterangan dan laporan pemeriksaan tentang Bank Syariah
dan UUS yang diperoleh berdasarkan ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
tidak diumumkan dan bersifat rahasia.
Pasal 53
(1) Bank Indonesia dapat menugasi kantor akuntan publik atau
pihak lainnya untuk dan atas nama Bank Indonesia,
melaksanakan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 52 ayat (2).
(2) Persyaratan dan tata cara pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank
Indonesia.
Pasal 54
(1) Dalam hal Bank Syariah mengalami kesulitan yang
membahayakan kelangsungan usahanya, Bank Indonesia
berwenang melakukan tindakan dalam rangka tindak lanjut
pengawasan antara lain:
a. membatasi kewenangan Rapat Umum Pemegang Saham,
komisaris, direksi, dan pemegang saham;
b. meminta pemegang saham menambah modal;
c. meminta pemegang saham mengganti anggota dewan
komisaris dan/atau direksi Bank Syariah;
d. meminta Bank Syariah menghapusbukukan penyaluran
dana yang macet dan memperhitungkan kerugian Bank
Syariah dengan modalnya;
e. meminta Bank Syariah melakukan penggabungan atau
peleburan dengan Bank Syariah lain;
f. meminta Bank Syariah dijual kepada pembeli yang
bersedia mengambil alih seluruh kewajibannya;
g. meminta . . .
– 28 –
g. meminta Bank Syariah menyerahkan pengelolaan
seluruh atau sebagian kegiatan Bank Syariah kepada
pihak lain; dan/atau
h. meminta Bank Syariah menjual sebagian atau seluruh
harta dan/atau kewajiban Bank Syariah kepada pihak
lain.
(2) Apabila tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum
cukup untuk mengatasi kesulitan yang dialami Bank
Syariah, Bank Indonesia menyatakan Bank Syariah tidak
dapat disehatkan dan menyerahkan penanganannya ke
Lembaga Penjamin Simpanan untuk diselamatkan atau tidak
diselamatkan.
(3) Dalam hal Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan Bank
Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
diselamatkan, Bank Indonesia atas permintaan Lembaga
Penjamin Simpanan mencabut izin usaha Bank Syariah dan
penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Lembaga Penjamin
Simpanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4) Atas permintaan Bank Syariah, Bank Indonesia dapat
mencabut izin usaha Bank Syariah setelah Bank Syariah
dimaksud menyelesaikan seluruh kewajibannya.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara
pencabutan izin usaha Bank Syariah sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
BAB IX
PENYELESAIAN SENGKETA
Pasal 55
(1) Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh
pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.
(2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian
sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad.
(3) Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Syariah.
BAB X …
– 29 –
BAB X
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 56
Bank Indonesia menetapkan sanksi administratif kepada Bank
Syariah atau UUS, anggota dewan komisaris, anggota Dewan
Pengawas Syariah, direksi, dan/atau pegawai Bank Syariah atau
Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, yang menghalangi
dan/atau tidak melaksanakan Prinsip Syariah dalam
menjalankan usaha atau tugasnya atau tidak memenuhi
kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang
ini.
Pasal 57
(1) Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif kepada
Bank Syariah atau UUS, anggota dewan komisaris, anggota
Dewan Pengawas Syariah, direksi, dan/atau pegawai Bank
Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
yang melanggar Pasal 41 dan Pasal 44.
(2) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak mengurangi ketentuan pidana sebagai akibat
dari pelanggaran kerahasiaan bank.
Pasal 58
(1) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang ini adalah:
a. denda uang;
b. teguran tertulis;
c. penurunan tingkat kesehatan Bank Syariah dan UUS;
d. pelarangan untuk turut serta dalam kegiatan kliring;
e. pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor
cabang tertentu maupun untuk Bank Syariah dan UUS
secara keseluruhan;
f. pemberhentian pengurus Bank Syariah dan Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS, dan selanjutnya
menunjuk dan mengangkat pengganti sementara sampai
Rapat Umum Pemegang Saham mengangkat pengganti
yang tetap dengan persetujuan Bank Indonesia;
g. pencantuman …
– 30 –
g. pencantuman anggota pengurus, pegawai, dan
pemegang saham Bank Syariah dan Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS dalam daftar orang
tercela di bidang perbankan; dan/atau
h. pencabutan izin usaha.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan sanksi
administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam Peraturan Bank Indonesia.
BAB XI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 59
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha Bank Syariah,
UUS, atau kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk
Simpanan atau Investasi berdasarkan Prinsip Syariah tanpa
izin usaha dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 22 dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling
banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).
(2) Dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh badan hukum, penuntutan terhadap badan
hukum dimaksud dilakukan terhadap mereka yang memberi
perintah untuk melakukan perbuatan itu dan/atau yang
bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu.
Pasal 60
(1) Setiap orang yang dengan sengaja tanpa membawa perintah
tertulis atau izin dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 dan Pasal 43 memaksa Bank Syariah, UUS,
atau pihak terafiliasi untuk memberikan keterangan,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun
dan paling lama 4 (empat) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan
paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar
rupiah).
(2) Anggota …
– 31 –
(2) Anggota direksi, komisaris, pegawai Bank Syariah atau Bank
Umum Konvensional yang memiliki UUS, atau Pihak
Terafiliasi lainnya yang dengan sengaja memberikan
keterangan yang wajib dirahasiakan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 41 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat
miliar rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00
(delapan miliar rupiah).
Pasal 61
Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah
atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan
sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 47, dan Pasal 48
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan
paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Pasal 62
(1) Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank
Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
yang dengan sengaja:
a. tidak menyampaikan laporan keuangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2); dan/atau
b. tidak memberikan keterangan atau tidak melaksanakan
perintah yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun
dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling
banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
(2) Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank
Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
yang lalai:
a. tidak menyampaikan laporan keuangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2); dan/atau
b. tidak memberikan keterangan atau tidak melaksanakan
perintah yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52
dipidana . . .
– 32 –
dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Pasal 63
(1) Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank
Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
yang dengan sengaja:
a. membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu
dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau
laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi
atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS;
b. menghilangkan atau tidak memasukkan atau
menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam
pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan
kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau
rekening suatu Bank Syariah atau UUS; dan/atau
c. mengubah, mengaburkan, menyembunyikan,
menghapus, atau menghilangkan adanya suatu
pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan,
dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau
laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah
atau UUS, atau dengan sengaja mengubah,
mengaburkan, menghilangkan, menyembunyikan, atau
merusak catatan pembukuan tersebut
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)
dan paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar
rupiah).
(2) Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank
Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
yang dengan sengaja:
a. meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui
untuk menerima suatu imbalan, komisi, uang
tambahan, pelayanan, uang, atau barang berharga
untuk keuntungan pribadinya atau untuk keuntungan
keluarganya, dalam rangka:
1. mendapatkan …
– 33 –
1. mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagi
orang lain dalam memperoleh uang muka, bank
garansi, atau fasilitas penyaluran dana dari Bank
Syariah atau UUS;
2. melakukan pembelian oleh Bank Syariah atau UUS
atas surat wesel, surat promes, cek dan kertas
dagang, atau bukti kewajiban lainnya;
3. memberikan persetujuan bagi orang lain untuk
melaksanakan penarikan dana yang melebihi batas
penyaluran dananya pada Bank Syariah atau UUS;
dan/atau
b. tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan
untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS
terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun
dan paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling
banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
Pasal 64
Pihak Terafiliasi yang dengan sengaja tidak melaksanakan
langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan
Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS
terhadap ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 8
(delapan) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
Pasal 65
Pemegang saham yang dengan sengaja menyuruh anggota dewan
komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS untuk melakukan atau tidak
melakukan tindakan yang mengakibatkan Bank Syariah atau
UUS tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan
untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS terhadap
ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 7 (tujuh) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak
Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).
Pasal 66 . . .
– 34 –
Pasal 66
(1) Anggota direksi atau pegawai Bank Syariah atau Bank
Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan
sengaja:
a. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan
Undang-Undang ini dan perbuatan tersebut telah
mengakibatkan kerugian bagi Bank Syariah atau UUS
atau menyebabkan keadaan keuangan Bank Syariah
atau UUS tidak sehat;
b. menghalangi pemeriksaan atau tidak membantu
pemeriksaan yang dilakukan oleh dewan komisaris atau
kantor akuntan publik yang ditugasi oleh dewan
komisaris;
c. memberikan penyaluran dana atau fasilitas penjaminan
dengan melanggar ketentuan yang berlaku yang
diwajibkan pada Bank Syariah atau UUS, yang
mengakibatkan kerugian sehingga membahayakan
kelangsungan usaha Bank Syariah atau UUS; dan/atau
d. tidak melakukan langkah-langkah yang diperlukan
untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS
terhadap ketentuan Batas Maksimum Pemberian
Penyaluran Dana sebagaimana ditentukan dalam
Undang-Undang ini dan/atau ketentuan yang berlaku
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun
dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Anggota direksi dan pegawai Bank Syariah atau Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja
melakukan penyalahgunaan dana Nasabah, Bank Syariah
atau UUS dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)
dan paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar
rupiah).
BAB XII …
– 35 –
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 67
(1) Bank Syariah atau UUS yang telah memiliki izin usaha pada
saat Undang-Undang ini mulai berlaku dinyatakan telah
memperoleh izin usaha berdasarkan Undang-Undang ini.
(2) Bank Syariah atau UUS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Undang-
Undang ini paling lama 1 (satu) tahun sejak mulai
berlakunya Undang-Undang ini.
Pasal 68
(1) Dalam hal Bank Umum Konvensional memiliki UUS yang
nilai asetnya telah mencapai paling sedikit 50% (lima puluh
persen) dari total nilai aset bank induknya atau 15 (lima
belas) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini, maka
Bank Umum Konvensional dimaksud wajib melakukan
Pemisahan UUS tersebut menjadi Bank Umum Syariah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Pemisahan dan sanksi bagi
Bank Umum Konvensional yang tidak melakukan Pemisahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bank Indonesia.
BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 69
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, segala ketentuan
mengenai Perbankan Syariah yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790)
beserta peraturan pelaksanaannya dinyatakan tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.
Pasal 70
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar . . .
– 36 –
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 16 Juli 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 16 Juli 2008
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 94
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2008
TENTANG
PERBANKAN SYARIAH
I. UMUM
Sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tujuan pembangunan nasional
adalah terciptanya masyarakat adil dan makmur, berdasarkan demokrasi
ekonomi, dengan mengembangkan sistem ekonomi yang bertumpu pada
mekanisme pasar yang berkeadilan. Guna mewujudkan tujuan tersebut,
pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional diarahkan pada
perekonomian yang berpihak pada ekonomi kerakyatan, merata, mandiri,
handal, berkeadilan, dan mampu bersaing di kancah perekonomian
internasional.
Agar tercapai tujuan pembangunan nasional dan dapat berperan aktif
dalam persaingan global yang sehat, diperlukan partisipasi dan kontribusi
semua elemen masyarakat untuk menggali berbagai potensi yang ada di
masyarakat guna mendukung proses akselerasi ekonomi dalam upaya
merealisasikan tujuan pembangunan nasional. Salah satu bentuk
penggalian potensi dan wujud kontribusi masyarakat dalam perekonomian
nasional tersebut adalah pengembangan sistem ekonomi berdasarkan nilai
Islam (Syariah) dengan mengangkat prinsip-prinsipnya ke dalam Sistem
Hukum Nasional. Prinsip Syariah berlandaskan pada nilai-nilai keadilan,
kemanfaatan, keseimbangan, dan keuniversalan (rahmatan lil ‘alamin).
Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam pengaturan perbankan yang
didasarkan pada Prinsip Syariah yang disebut Perbankan Syariah.
Prinsip Perbankan Syariah merupakan bagian dari ajaran Islam yang
berkaitan dengan ekonomi. Salah satu prinsip dalam ekonomi Islam
adalah larangan riba dalam berbagai bentuknya, dan menggunakan
sistem antara lain prinsip bagi hasil. Dengan prinsip bagi hasil, Bank
Syariah dapat menciptakan iklim investasi yang sehat dan adil karena
semua pihak dapat saling berbagi baik keuntungan maupun potensi risiko
yang timbul sehingga akan menciptakan posisi yang berimbang antara
bank dan nasabahnya. Dalam jangka panjang, hal ini akan mendorong
pemerataan ekonomi nasional karena hasil keuntungan tidak hanya
dinikmati oleh pemilik modal saja, tetapi juga oleh pengelola modal.
Perbankan . . .
– 38 –
Perbankan Syariah sebagai salah satu sistem perbankan nasional
memerlukan berbagai sarana pendukung agar dapat memberikan
kontribusi yang maksimum bagi pengembangan ekonomi nasional. Salah
satu sarana pendukung vital adalah adanya pengaturan yang memadai
dan sesuai dengan karakteristiknya. Pengaturan tersebut di antaranya
dituangkan dalam Undang-Undang Perbankan Syariah. Pembentukan
Undang-Undang Perbankan Syariah menjadi kebutuhan dan keniscayaan
bagi berkembangnya lembaga tersebut. Pengaturan mengenai Perbankan
Syariah dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
belum spesifik dan kurang mengakomodasi karakteristik operasional
Perbankan Syariah, dimana, di sisi lain pertumbuhan dan volume usaha
Bank Syariah berkembang cukup pesat.
Guna menjamin kepastian hukum bagi stakeholders dan sekaligus
memberikan keyakinan kepada masyarakat dalam menggunakan produk
dan jasa Bank Syariah, dalam Undang-Undang Perbankan Syariah ini
diatur jenis usaha, ketentuan pelaksanaan syariah, kelayakan usaha,
penyaluran dana, dan larangan bagi Bank Syariah maupun UUS yang
merupakan bagian dari Bank Umum Konvensional. Sementara itu, untuk
memberikan keyakinan pada masyarakat yang masih meragukan
kesyariahan operasional Perbankan Syariah selama ini, diatur pula
kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah meliputi
kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur-unsur riba, maisir, gharar,
haram, dan zalim.
Sebagai undang-undang yang khusus mengatur perbankan syariah, dalam
Undang-Undang ini diatur mengenai masalah kepatuhan syariah (syariah
compliance) yang kewenangannya berada pada Majelis Ulama Indonesia
(MUI) yang direpresentasikan melalui Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang
harus dibentuk pada masing-masing Bank Syariah dan UUS. Untuk
menindaklanjuti implementasi fatwa yang dikeluarkan MUI ke dalam
Peraturan Bank Indonesia, di dalam internal Bank Indonesia dibentuk
komite perbankan syariah, yang keanggotaannya terdiri atas perwakilan
dari Bank Indonesia, Departemen Agama, dan unsur masyarakat yang
komposisinya berimbang.
Sementara itu, penyelesaian sengketa yang mungkin timbul pada
perbankan syariah, akan dilakukan melalui pengadilan di lingkungan
Peradilan Agama. Di samping itu, dibuka pula kemungkinan penyelesaian
sengketa melalui musyawarah, mediasi perbankan, lembaga arbitrase,
atau melalui pengadilan di lingkungan Peradilan Umum sepanjang
disepakati di dalam Akad oleh para pihak.
Untuk . . .
– 39 –
Untuk menerapkan substansi undang-undang perbankan syariah ini,
maka pengaturan terhadap UUS yang secara korporasi masih berada
dalam satu entitas dengan Bank Umum Konvensional, di masa depan,
apabila telah berada pada kondisi dan jangka waktu tertentu diwajibkan
untuk memisahkan UUS menjadi Bank Umum Syariah dengan memenuhi
tata cara dan persyaratan yang ditetapkan dengan Peraturan Bank
Indonesia.
Sehubungan dengan hal tersebut, pengaturan tersendiri bagi Perbankan
Syariah merupakan hal yang mendesak dilakukan, untuk menjamin
terpenuhinya prinsip-prinsip Syariah, prinsip kesehatan Bank bagi Bank
Syariah, dan yang tidak kalah penting diharapkan dapat memobilisasi
dana dari negara lain yang mensyaratkan pengaturan terhadap Bank
Syariah dalam undang-undang tersendiri.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Kegiatan usaha yang berasaskan Prinsip Syariah, antara lain, adalah
kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur:
a. riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil)
antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak
sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl), atau
dalam transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan
Nasabah Penerima Fasilitas mengembalikan dana yang diterima
melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah);
b. maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan
yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan;
c. gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki,
tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada
saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah;
d. haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah;
atau
e. zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi
pihak lainnya.
Yang dimaksud dengan “demokrasi ekonomi” adalah kegiatan
ekonomi syariah yang mengandung nilai keadilan, kebersamaan,
pemerataan, dan kemanfaatan.
Yang . . .
– 40 –
Yang dimaksud dengan “prinsip kehati-hatian” adalah pedoman
pengelolaan Bank yang wajib dianut guna mewujudkan perbankan
yang sehat, kuat, dan efisien sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 3
Dalam mencapai tujuan menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional, Perbankan Syariah tetap berpegang pada Prinsip Syariah
secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten (istiqamah).
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “dana sosial lainnya”, antara lain
adalah penerimaan Bank yang berasal dari pengenaan sanksi
terhadap Nasabah (ta’zir).
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Persyaratan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia
sekurang-kurangnya memuat tentang:
a. susunan organisasi dan kepengurusan;
b. modal kerja;
c. keahlian di bidang Perbankan Syariah; dan
d. kelayakan usaha.
Ayat (4)
Yang diwajibkan mencantumkan kata “syariah” hanya Bank
Syariah yang mendapatkan izin setelah berlakunya Undang-
Undang ini.
Penulisan kata “syariah” ditempatkan setelah kata “bank”
atau setelah nama bank.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6) . . .
– 41 –
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “kantor di bawah Kantor Cabang”
adalah kantor cabang pembantu atau kantor kas yang
kegiatan usahanya membantu kantor induknya.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Hal-hal yang dapat diatur dalam Peraturan Bank Indonesia
antara lain:
a. pemberhentian anggota direksi dan komisaris yang tidak
lulus uji kemampuan dan kepatutan;
b. pengalihan kepemilikan saham pengendali bank yang
harus mendapatkan persetujuan Bank Indonesia;
c. pengalihan . . .
. . .
– 42 –
c. pengalihan izin usaha dari nama lama ke nama baru,
perubahan modal dasar, dan perubahan status menjadi
Bank terbuka harus mendapatkan persetujuan Bank
Indonesia;
d. perubahan modal disetor Bank yang meliputi
penambahan, pengurangan, dan komposisi harus
mendapatkan persetujuan Bank Indonesia;
e. pelarangan penjaminan saham yang dimiliki oleh
pemegang saham pengendali.
Pasal 9
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Dalam hal salah satu pihak yang akan mendirikan
Bank Umum Syariah adalah badan hukum asing, yang
bersangkutan terlebih dahulu harus memperoleh
rekomendasi dari otoritas perbankan negara asal.
Rekomendasi dimaksud sekurang-kurangnya memuat
keterangan bahwa badan hukum asing yang
bersangkutan mempunyai reputasi yang baik dan tidak
pernah melakukan perbuatan tercela di bidang
perbankan.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13 . . .
– 43 –
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Perubahan kepemilikan Bank Syariah yang tidak mengakibatkan
perubahan pemegang saham pengendali cukup dilaporkan secara
tertulis kepada Bank Indonesia.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pokok-pokok pengaturan dalam Peraturan Bank Indonesia
mencakup antara lain:
a. minimum kecukupan modal;
b. persiapan sumber daya manusia;
c. susunan organisasi dan kepengurusan; dan
d. kelayakan usaha.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “Akad wadi’ah” adalah Akad
penitipan barang atau uang antara pihak yang
mempunyai barang atau uang dan pihak yang diberi
kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga
keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau
uang.
Huruf b . . .
– 44 –
Huruf b
Yang dimaksud dengan “Akad mudharabah” dalam
menghimpun dana adalah Akad kerja sama antara
pihak pertama (malik, shahibul mal, atau Nasabah)
sebagai pemilik dana dan pihak kedua (‘amil,
mudharib, atau Bank Syariah) yang bertindak sebagai
pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha
sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam
Akad.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “Akad mudharabah” dalam
Pembiayaan adalah Akad kerja sama suatu usaha
antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau Bank
Syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak
kedua (‘amil, mudharib, atau Nasabah) yang bertindak
selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan
usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan
dalam Akad, sedangkan kerugian ditanggung
sepenuhnya oleh Bank Syariah kecuali jika pihak
kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau
menyalahi perjanjian.
Yang dimaksud dengan “Akad musyarakah” adalah
Akad kerja sama di antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak
memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa
keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan,
sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan porsi
dana masing-masing.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “Akad murabahah” adalah
Akad Pembiayaan suatu barang dengan menegaskan
harga belinya kepada pembeli dan pembeli
membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
keuntungan yang disepakati.
Yang dimaksud dengan “Akad salam” adalah Akad
Pembiayaan suatu barang dengan cara pemesanan dan
pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu
dengan syarat tertentu yang disepakati.
Yang dimaksud dengan “Akad istishna’ ” adalah Akad
Pembiayaan barang dalam bentuk pemesanan
pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan
atau pembeli (mustashni’) dan penjual atau pembuat
(shani’).
Huruf e . . .
– 45 –
Huruf e
Yang dimaksud dengan “Akad qardh” adalah Akad
pinjaman dana kepada Nasabah dengan ketentuan
bahwa Nasabah wajib mengembalikan dana yang
diterimanya pada waktu yang telah disepakati.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “Akad ijarah” adalah Akad
penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak
guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa
berdasarkan transaksi sewa, tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
Yang dimaksud dengan “Akad ijarah muntahiya
bittamlik” adalah Akad penyediaan dana dalam rangka
memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu
barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa dengan
opsi pemindahan kepemilikan barang.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “Akad hawalah” adalah Akad
pengalihan utang dari pihak yang berutang kepada
pihak lain yang wajib menanggung atau membayar.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Yang dimaksud dengan “transaksi nyata” adalah
transaksi yang dilandasi dengan aset yang berwujud.
Yang dimaksud dengan “Akad kafalah” adalah Akad
pemberian jaminan yang diberikan satu pihak kepada
pihak lain, di mana pemberi jaminan (kafil)
bertanggung jawab atas pembayaran kembali utang
yang menjadi hak penerima jaminan (makful).
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n . . .
– 46 –
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Yang dimaksud dengan “Akad wakalah” adalah Akad
pemberian kuasa kepada penerima kuasa untuk
melaksanakan suatu tugas atas nama pemberi kuasa.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Yang dimaksud dengan “kegiatan lain” adalah, antara
lain, melakukan fungsi sosial dalam bentuk menerima
dan menyalurkan dana zakat, infak, sedekah, serta
dana kebajikan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “penyertaan modal” adalah
penanaman dana Bank Umum Syariah dalam bentuk
saham pada perusahaan yang bergerak dalam bidang
keuangan syariah, termasuk penanaman dana dalam
bentuk surat berharga yang dapat dikonversi menjadi
saham (convertible bonds) atau jenis transaksi tertentu
berdasarkan Prinsip Syariah yang berakibat Bank
Umum Syariah memiliki atau akan memiliki saham
pada perusahaan yang bergerak dalam bidang
keuangan syariah.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “penyertaan modal sementara”
adalah penyertaan modal Bank Umum Syariah, antara
lain, berupa pembelian saham dan/atau konversi
pembiayaan menjadi saham dalam perusahaan
Nasabah untuk mengatasi kegagalan penyaluran dana
dan/atau piutang dalam jangka waktu tertentu
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank
Indonesia.
Huruf d . . .
– 47 –
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Kemauan berkaitan dengan iktikad baik dari Nasabah
Penerima Fasilitas untuk membayar kembali penggunaan
dana yang disalurkan oleh Bank Syariah dan/atau UUS.
Kemampuan berkaitan dengan keadaan dan/atau aset
Nasabah Penerima Fasilitas sehingga mampu untuk
membayar kembali penggunaan dana yang disalurkan oleh
Bank Syariah dan/atau UUS.
Ayat (2) . . .
– 48 –
Ayat (2)
Penilaian watak calon Nasabah Penerima Fasilitas terutama
didasarkan kepada hubungan yang telah terjalin antara
Bank Syariah dan/atau UUS dan Nasabah atau calon
Nasabah yang bersangkutan atau informasi yang diperoleh
dari pihak lain yang dapat dipercaya sehingga Bank Syariah
dan/atau UUS dapat menyimpulkan bahwa calon Nasabah
Penerima Fasilitas yang bersangkutan jujur, beriktikad baik,
dan tidak menyulitkan Bank Syariah dan/atau UUS di
kemudian hari.
Penilaian kemampuan calon Nasabah Penerima Fasilitas
terutama Bank harus meneliti tentang keahlian Nasabah
Penerima Fasilitas dalam bidang usahanya dan/atau
kemampuan manajemen calon Nasabah sehingga Bank
Syariah dan/atau UUS merasa yakin bahwa usaha yang
akan dibiayai dikelola oleh orang yang tepat.
Penilaian terhadap modal yang dimiliki calon Nasabah
Penerima Fasilitas, terutama Bank Syariah dan/atau UUS
harus melakukan analisis terhadap posisi keuangan secara
keseluruhan, baik untuk masa yang telah lalu maupun
perkiraan untuk masa yang akan datang sehingga dapat
diketahui kemampuan permodalan calon Nasabah Penerima
Fasilitas dalam menunjang pembiayaan proyek atau usaha
calon Nasabah yang bersangkutan.
Dalam melakukan penilaian terhadap Agunan, Bank Syariah
dan/atau UUS harus menilai barang, proyek atau hak tagih
yang dibiayai dengan fasilitas Pembiayaan yang
bersangkutan dan barang lain, surat berharga atau garansi
risiko yang ditambahkan sebagai Agunan tambahan, apakah
sudah cukup memadai sehingga apabila Nasabah Penerima
Fasilitas kelak tidak dapat melunasi kewajibannya, Agunan
tersebut dapat digunakan untuk menanggung pembayaran
kembali Pembiayaan dari Bank Syariah dan/atau UUS yang
bersangkutan.
Penilaian terhadap proyek usaha calon Nasabah Penerima
Fasilitas, Bank Syariah terutama harus melakukan analisis
mengenai keadaan pasar, baik di dalam maupun di luar
negeri, baik untuk masa yang telah lalu maupun yang akan
datang sehingga dapat diketahui prospek pemasaran dari
hasil proyek atau usaha calon Nasabah yang akan dibiayai
dengan fasilitas Pembiayaan.
Pasal 24 . . .
– 49 –
Pasal 24
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Bank Umum Syariah dapat memasarkan produk
asuransi melalui kerja sama dengan perusahaan
asuransi yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan
Prinsip Syariah. Semua tindakan Bank Umum Syariah
yang berkaitan dengan transaksi asuransi yang
dipasarkan melalui kerja sama dimaksud menjadi
tanggung jawab perusahaan asuransi syariah.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
UUS dapat memasarkan produk asuransi melalui kerja
sama dengan perusahaan asuransi yang melakukan
kegiatan usaha berdasrkan Prinsip Syariah. Semua
tindakan UUS yang berkaitan dengan transaksi
asuransi yang dipasarkan melalui kerja sama
dimaksud menjadi tanggung jawab perusahaan
asuransi syariah.
Pasal 25
Huruf a
Usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah antara lain
usaha yang dianggap riba, maisir, gharar, haram, dan zalim.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c . . .
– 50 –
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dapat memasarkan produk
asuransi melalui kerja sama dengan perusahaan asuransi
syariah. Semua tindakan Bank yang berkaitan dengan
transaksi asuransi yang dipasarkan melalui kerja sama
dimaksud menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi
syariah.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Komite perbankan syariah beranggotakan unsur-unsur dari
Bank Indonesia, Departemen Agama, dan unsur masyarakat
dengan komposisi yang berimbang, memiliki keahlian di
bidang syariah dan berjumlah paling banyak 11 (sebelas)
orang.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pemegang saham pengendali”
adalah badan hukum, orang perseorangan, dan/atau
kelompok usaha yang:
a. memiliki saham Bank Syariah sebesar 25% (dua puluh
lima persen) atau lebih dari jumlah saham yang
dikeluarkan dan memperoleh hak suara; atau
b. memiliki . . .
– 51 –
b. memiliki saham perusahaan atau Bank kurang dari 25%
(dua puluh lima persen) dari jumlah saham yang
dikeluarkan dan mempunyai hak suara, tetapi yang
bersangkutan dapat dibuktikan telah melakukan
pengendalian perusahaan atau bank, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Pengendalian merupakan suatu tindakan yang bertujuan
untuk memengaruhi pengelolaan dan/atau kebijakan
perusahaan, termasuk bank, dengan cara apa pun, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Pengendalian terhadap Bank Syariah dapat dilakukan
dengan cara-cara, antara lain, sebagai berikut:
a. memiliki secara sendiri-sendiri atau bersama-sama 25%
(dua puluh lima persen) atau lebih saham Bank;
b. secara langsung menjalankan manajemen dan/atau
memengaruhi kebijakan Bank Syariah;
c. memiliki hak opsi atau hak lainnya untuk memiliki saham
yang apabila digunakan akan menyebabkan pihak
tersebut memiliki dan/atau mengendalikan secara
sendiri-sendiri atau bersama-sama 25% (dua puluh lima
persen) atau lebih saham Bank;
d. melakukan kerja sama atau tindakan yang sejalan untuk
mencapai tujuan bersama dalam mengendalikan Bank
(acting in concert) dengan atau tanpa perjanjian tertulis
dengan pihak lain sehingga secara bersama-sama
memiliki dan/atau mengendalikan 25% (dua puluh lima
persen) atau lebih saham Bank Syariah, baik langsung
maupun tidak langsung dengan atau tanpa perjanjian
tertulis;
e. melakukan kerja sama atau tindakan yang sejalan untuk
mencapai tujuan bersama dalam mengendalikan Bank
(acting in concert) dengan atau tanpa perjanjian tertulis
dengan pihak lain sehingga secara bersama-sama
mempunyai hak opsi atau hak lainnya untuk memiliki
saham, yang apabila hak tersebut dilaksanakan
menyebabkan pihak-pihak tersebut memiliki dan/atau
mengendalikan 25% (dua puluh lima persen) atau lebih
saham Bank Syariah;
f. mengendalikan satu atau lebih perusahaan lain yang
secara keseluruhan memiliki dan/atau mengendalikan
secara bersama-sama 25% (dua puluh lima persen) atau
lebih saham Bank;
g. mempunyai . . .
– 52 –
g. mempunyai kewenangan untuk menyetujui dan/atau
memberhentikan pengurus Bank Syariah;
h. secara tidak langsung memengaruhi atau menjalankan
manajemen dan/atau kebijakan Bank Syariah;
i. melakukan pengendalian terhadap perusahaan induk
atau perusahaan induk di bidang keuangan dari Bank
Syariah; dan/atau
j. melakukan pengendalian terhadap pihak yang melakukan
pengendalian sebagaimana dimaksud pada huruf a
sampai dengan huruf i.
Uji kemampuan dan kepatutan sepenuhnya merupakan
kewenangan Bank Indonesia untuk menilai kompetensi,
integritas, dan kemampuan keuangan pemegang saham
pengendali dan/atau pengurus bank. Mengingat tujuan uji
kemampuan dan kepatutan adalah untuk memperoleh
pemegang saham pengendali dan pengurus bank yang dapat
menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan,
penilaian dalam rangka uji kemampuan dan kepatutan oleh
Bank Indonesia tidak perlu dipertanggungjawabkan.
Ayat (2)
Kewajiban menurunkan kepemilikan saham bagi Pemilik
Bank yang tidak lulus uji kemampuan dan kepatutan adalah
dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak dinyatakan tidak
lulus uji kemampuan dan kepatutan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 28
Yang termasuk dalam pengertian peraturan perundang-undangan
adalah Peraturan Bank Indonesia.
Pokok-pokok pengaturan tugas direksi Bank Syariah dalam
anggaran dasar antara lain:
a. tugas dan tanggung jawab;
b. pelaporan; dan
c. perlindungan dalam pelaksanaan tugas.
Pasal 29 . . .
– 53 –
Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pokok-pokok pengaturan tugas direktur adalah:
a. tugas dan tanggung jawab;
b. pelaporan; dan
c. perlindungan dalam pelaksanaan tugas.
Pasal 30
Ayat (1)
Uji kemampuan dan kepatutan bertujuan untuk menjamin
kompetensi, kredibilitas, integritas, dan pelaksanaan tata
kelola yang sehat (good corporate governance) dari pemilik,
pengurus bank, dan pengawas syariah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 31
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pejabat eksekutif” adalah pejabat
yang bertanggung jawab langsung kepada direksi dan/atau
mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dan operasional
Bank Syariah seperti kepala divisi, pemimpin Kantor Cabang,
atau kepala satuan kerja audit internal.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3) . . .
– 54 –
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia sekurangkurangnya
meliputi:
a. ruang lingkup, tugas, dan fungsi dewan pengawas
syariah;
b. jumlah anggota dewan pengawas syariah;
c. masa kerja;
d. komposisi keahlian;
e. maksimal jabatan rangkap; dan
f. pelaporan dewan pengawas syariah.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Ayat (1)
Dalam rangka menjamin terlaksananya pengambilan
keputusan dalam pengelolaan bank yang sesuai dengan
prinsip kehati-hatian, Bank memiliki dan menerapkan,
antara lain, sistem pengawasan intern.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “prinsip akuntansi syariah yang
berlaku umum” adalah standar akuntansi syariah yang
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.
Ayat (3)
Kantor akuntan publik yang dimaksud adalah kantor
akuntan publik yang memiliki akuntan dengan keahlian
bidang akuntansi syariah.
Ayat (4)
Dalam memberikan pengecualian, Bank Indonesia
memperhatikan kemampuan Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah yang bersangkutan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 36 . . .
– 55 –
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Ayat (1)
Penyaluran dana berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank
Syariah dan UUS mengandung risiko kegagalan atau
kemacetan dalam pelunasannya sehingga dapat berpengaruh
terhadap kesehatan Bank Syariah dan UUS. Mengingat
bahwa penyaluran dana dimaksud bersumber dari dana
masyarakat yang disimpan pada Bank Syariah dan UUS,
risiko yang dihadapi Bank Syariah dan UUS dapat
berpengaruh pula kepada keamanan dana masyarakat
tersebut.
Oleh karena itu, untuk memelihara kesehatan dan
meningkatkan daya tahannya, bank diwajibkan menyebar
risiko dengan mengatur penyaluran kredit atau pemberian
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, pemberian
jaminan ataupun fasilitas lain sedemikian rupa sehingga
tidak terpusat pada Nasabah debitur atau kelompok Nasabah
debitur tertentu.
Ayat (2)
Pengertian “modal Bank Syariah sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia” sesuai dengan
pengertian yang dipergunakan dalam penilaian kesehatan
bank.
Batas maksimum yang dimaksud diperuntukkan bagi
masing-masing Nasabah Penerima Fasilitas atau sekelompok
Nasabah Penerima Fasilitas termasuk perusahaanperusahaan
dalam kelompok yang sama.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d . . .
– 56 –
Huruf d
Yang dimaksud dengan “keluarga” adalah hubungan
sampai dengan derajat kedua, baik menurut garis
keturunan lurus maupun ke samping termasuk
mertua, menantu, dan ipar.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (4)
Pengertian “modal Bank Syariah sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia” sesuai dengan
pengertian yang dipergunakan dalam penilaian kesehatan
bank.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “manajemen risiko” adalah
serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan oleh
perbankan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau,
dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha
bank.
Prinsip mengenal Nasabah (know your customer principle)
merupakan prinsip yang harus diterapkan oleh perbankan
yang sekurang-kurangnya mencakup kegiatan penerimaan
dan identifikasi Nasabah serta pemantauan kegiatan
transaksi Nasabah, termasuk pelaporan transaksi yang
mencurigakan.
Perlindungan Nasabah dilakukan antara lain dengan cara
adanya mekanisme pengaduan Nasabah, meningkatkan
transparansi produk, dan edukasi terhadap Nasabah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 39
Penjelasan yang diberikan kepada Nasabah mengenai
kemungkinan timbulnya risiko kerugian Nasabah dimaksudkan
untuk menjamin transparansi produk dan jasa Bank.
Apabila informasi tersebut telah disediakan, Bank dianggap telah
melaksanakan ketentuan ini.
Pasal 40 . . .
– 57 –
Pasal 40
Ayat (1)
Pembelian Agunan oleh Bank melalui pelelangan
dimaksudkan untuk membantu Bank agar dapat
mempercepat penyelesaian kewajiban Nasabah Penerima
Fasilitasnya. Dalam hal bank sebagai pembeli Agunan
Nasabah Penerima Fasilitasnya, status Bank adalah sama
dengan pembeli bukan Bank lainnya.
Bank dimungkinkan membeli Agunan di luar pelelangan
dimaksudkan agar dapat mempercepat penyelesaian
kewajiban Nasabah Penerima Fasilitasnya.
Batas waktu 1 (satu) tahun dengan memperhitungkan
pemulihan kondisi likuiditas Bank dan batas waktu ini
merupakan jangka waktu yang wajar untuk menjual aset
Bank.
Agunan yang dapat dibeli oleh Bank adalah Agunan yang
pembiayaannya telah dikategorikan macet selama jangka
waktu tertentu.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Pokok-pokok ketentuan yang diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bank Indonesia memuat antara lain:
a. Agunan yang dapat dibeli oleh Bank Syariah dan UUS
adalah Agunan yang pembiayaannya telah dikategorikan
macet selama jangka waktu tertentu;
b. Jangka waktu pencairan Agunan yang telah dibeli.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “memperlihatkan bukti tertulis”,
termasuk menyampaikan keterangan atau fotokopi.
Ayat (2) . . .
– 58 –
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 43
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pimpinan instansi yang diberi
wewenang untuk melakukan penyidikan” adalah pimpinan
departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen
setingkat menteri.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Pembinaan yang dilakukan Bank Indonesia, antara lain, mengenai
aspek kelembagaan, kepemilikan dan kepengurusan (termasuk uji
kemampuan dan kepatutan), kegiatan usaha, pelaporan, serta
aspek lain yang berhubungan dengan kegiatan operasional Bank
Syariah dan UUS.
Pengawasan . . .
– 59 –
Pengawasan bank meliputi pengawasan tidak langsung (off-site
supervision) atas dasar laporan Bank dan pengawasan langsung
(on-site supervision) dalam bentuk pemeriksaan di kantor bank
yang bersangkutan.
Pasal 51
Ayat (1)
Bank Syariah dan UUS perlu menjaga tingkat kesehatannya
dalam rangka memelihara kepercayaan masyarakat.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “data/dokumen” adalah segala
jenis data atau dokumen, baik tertulis maupun
elektronis, yang terkait dengan objek pengawasan
Bank Indonesia.
Yang dimaksud dengan “setiap tempat yang terkait
dengan Bank” adalah setiap bagian ruangan dari
kantor bank dan tempat lain di luar bank yang terkait
dengan objek pengawasan Bank Indonesia.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “data/dokumen” adalah segala
jenis data atau dokumen, baik tertulis maupun
elektronis yang terkait dengan objek pengawasan Bank
Indonesia.
Yang dimaksud dengan “setiap pihak” adalah orang
atau badan hukum yang memiliki pengaruh terhadap
pengambilan keputusan dan operasional Bank, baik
langsung maupun tidak langsung, antara lain, ultimate
shareholder atau pihak tertentu yang namanya tidak
tercantum sebagai pegawai, pengurus atau pemegang
saham bank tetapi dapat memengaruhi kegiatan
operasional bank atau keputusan manajemen bank.
Huruf c . . .
– 60 –
Huruf c
Yang dimaksud dengan “rekening Simpanan maupun
rekening Pembiayaan” adalah rekening-rekening, baik
yang ada pada Bank yang diawasi/diperiksa maupun
pada Bank lain, yang terkait dengan objek
pengawasan/pemeriksaan Bank Indonesia.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 53
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pihak lainnya” adalah pihak yang
menurut penilaian Bank Indonesia memiliki kompetensi
untuk melaksanakan pemeriksaan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 54
Ayat (1)
Keadaan suatu Bank dikatakan mengalami kesulitan yang
membahayakan kelangsungan usahanya apabila
berdasarkan penilaian Bank Indonesia, kondisi usaha Bank
semakin memburuk, antara lain, ditandai dengan
menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas, dan
rentabilitas, serta pengelolaan Bank yang tidak dilakukan
berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang
sehat.
Huruf a
Yang dimaksud dengan “membatasi kewenangan”
antara lain pembatasan keputusan pemberian bonus
(tantiem), pemberian dividen kepada pemilik Bank,
atau kenaikan gaji bagi pegawai dan pengurus.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e . . .
– 61 –
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Yang dimaksud dengan “pihak lain” adalah pihak di
luar Bank yang bersangkutan, baik Bank lain, badan
usaha lain, maupun individu yang memenuhi
persyaratan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 55
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “penyelesaian sengketa dilakukan
sesuai dengan isi Akad” adalah upaya sebagai berikut:
a. musyawarah;
b. mediasi perbankan;
c. melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas)
atau lembaga arbitrase lain; dan/atau
d. melalui pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 56 . . .
– 62 –
Pasal 56
Pada dasarnya sanksi administratif dikenakan terhadap anggota
komisaris atau anggota direksi secara personal yang melakukan
kesalahan, tetapi tidak menutup kemungkinan sanksi administratif
dikenakan secara kolektif apabila kesalahan tersebut dilakukan
secara kolektif.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Cukup jelas.
Pasal 67 . . .
– 63 –
Pasal 67
Ayat (1)
UUS yang telah memiliki izin usaha dalam ketentuan ini
adalah UUS yang sudah ada berdasarkan izin pembukaan
Kantor Cabang Syariah pada Bank Umum Konvensional.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4867

TEKNIK PENGUMPULAN DATA MENGGUNAKAN KUESIONER

Salah satu teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan kuesioner atau lebih dikenal sebagai angket. Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Penggunaan angket merupakan hal pokok pada penelitian survei untuk pengumpulan data.
Secara umum isi dari kuesioner dapat berupa:
1) Pertanyaan tentang fakta
Fakta yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang berhubungan dengan responden, seperti umur, pendidikan, agama. Informasi yang diketahui oleh responden juga dikategorikan dalam fakta.
2) Pertanyaan tentang pendapat
Menyangkut perasaan dan sikap responden tentang sesuatu.
3) Pertanyaan tentang persepsi diri
Mengenai cara responden menilai sesuatu tentang perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain atau lingkungan.
Dalam membuat pertanyaan untuk angket setidaknya ada delapan hal yang harus diperhatikan:
1) Jangan gunakan perkataan sulit
2) Jangan gunakan pertanyaan yang bersifat terlalu umum
3) Hindarkan pertanyaan yang ambigu
4) Jangan gunakan kata yang samar-samar
5) Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti
6) Hindarkan pertanyaan yang berdasarkan presumasi
7) Jangan membuat pertanyaan yang melakukan responden
8) Hindarkan pertanyaan yang menghendaki ingatan
Jika dikaitkan dengan leluasa tidaknya responden memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan, pertanyaan dibagi dalam dua jenis, yaitu:
1) Pertanyaan tertutup
Kemungkinan jawabannya sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan memberikan jawaban lainnya.
2) Pertanyaan terbuka
Kemungkinan jawabannya tidak ditentukan terlebih dahulu dan responden bebas memberikan jawaban.
3) Kombinasi tertutup dan terbuka
Jawabannya sudah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.
4) Pertanyaan semi terbuka
Jawabannya sudah tersusun tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.
Pertanyaan yang dibuat harus mempunyai hubungan yang relevan dengan permasalahan pokok dan harus dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Pertanyaan seyogyanya harus dapat dijawab oleh responden dalam waktu singkat. Dalam menyusun pertanyaan setidaknya ada dua hal yang perlu dipikirkan, yaitu isi dari setiap item pertanyaan dan hubungan antara item dengan item dalam keseluruhan kuesioner.
Keuntungan menggunakan teknik angket antara lain:
1) Angket dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirimkan melalui pos.
2) Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relatif murah.
3) Angket tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri sesuai dengan kesediaan waktunya.
Adapun kerugiannya antara lain:
1) Jika angket dikirimkan melalui pos maka persentase yang dikembalikan relatif rendah.
2) Angket tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa membaca dan menulis.
3) Pertanyaan-pertanyaan dalam angket dapat ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat penjelasan.

Referensi:
Irawan Soehartono. 2000. Metode Penelitian Sosial. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. 2006. Metode Penelitian Survai. LP3ES: Jakarta.
Moh. Nazir. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia: Bogor.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BANK UMUM DALAM MENEMPATKAN DANA PIHAK KETIGA KE SBI PERIODE JANUARI 2002 – APRIL 2005

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
a. Alasan Memilih Judul
Pada hakikatnya perbankan berfungsi sebagai lembaga intermediasi atau penghubung antara orang kaya yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Namun faktanya, per Oktober 2007, total dana masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun Perbankan Nasional adalah sebesar Rp 1.419 triliun. Sedangkan total DPK yang disalurkan sebagai kredit hanya sekitar Rp 937 triliun. Berarti ada sekitar Rp 482 triliun yang tidak diintermediasikan oleh bank dengan berbagai macam alasan. Perbankan malah menempatkan sebagian besar dana tersebut pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Hal ini tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penulis mencoba untuk menguji apakah jumlah DPK Bank Umum pada periode tertentu dan suku bunga SBI pada periode tertentu berpengaruh terhadap jumlah DPK Bank Umum yang akan ditempatkan ke SBI pada periode tertentu pula. Oleh karena itu, penulis memilih judul ”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bank Umum dalam Menempatkan Dana Pihak Ketiga ke SBI Periode Januari 2002 – April 2005” untuk paper ini.

b. Tujuan Penulisan Paper
Adapun tujuan penulisan paper adalah:
1. Untuk memenuhi tugas akhir semester genap TA 2007/2008 pada mata kuliah Statistika Ekonomi II.
2. Untuk mengetahui apakah suku bunga SBI berpengaruh terhadap jumlah DPK Bank Umum yang akan ditempatkan ke SBI.
3. Untuk mengetahui apakah jumlah DPK Bank Umum berpengaruh terhadap jumlah DPK Bank Umum yang akan ditempatkan ke SBI.

BAB II
KERANGKA TEORI

a. Asumsi Klasik
1. Normalitas
Normalitas, yaitu pengujian terhadap normal atau tidaknya pendistribusian data sampel pada Normal P Plot. Cara untuk mendeteksinya adalah dengan melihat grafik Normal P Plot. Jika plotnya mendekati garis diagonal, maka data sampel memenuhi asumsi normalitas. Dan sebaliknya, jika plotnya menjauhi garis diagonal maka data sampel tidak memenuhi asumsi normalitas.

2. Heterokedasitas
Heterokedasitas, yaitu ketidaksamaan varians dalam analisis regresi. Cara mendeteksinya adalah dengan melihat Scatterplot. Jika Scatterplot tidak membentuk pola atau titiknya menyebar baik di daerah positif (+) maupun negatif (-), maka dapat dikatakan tidak ada masalah heterokedasitas (homokedasitas). Namun jika titik-titiknya membentuk pola maka dapat dikatakan ada masalah heterokedasitas.

3. Multikolinieritas
Multikolinieritas, yaitu pengujian terhadap ada atau tidaknya korelasi antara variabel-variabel bebas. Jika variabel-variabel bebas yang ada berkorelasi satu sama lain secara ekstrim, maka dapat dikatakan ada masalah multikolinieritas, sehingga pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap Y sukar untuk dibedakan. Salah satu cara mendeteksinya adalah dengan melihat nilai VIF pada tabel Coefficients. Jika nilai VIF > 5, maka ada masalah multikolinieritas. Jika nilai VIF < 5, maka tidak ada masalah multikolinieritas.

4. Autokorelasi
Autokorelasi, yaitu masalah yang terjadi jika kesalahan observasi (kesalahan pengganggu) yang ada berkorelasi satu sama lain, sehingga mengakibatkan penduga untuk A dan B tidak lagi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya masalah autokorelasi adalah membandingkan antara nilai d Durbin-Watson pada print out dengan nilai tabel Durbin-Watson. Jika nilai d Durbin-Watson berada pada interval du – 4-du (tidak ada korelasi), maka tidak ada masalah autokorelasi.

b. Menjelaskan Variabel X1, X2, dan Y
1. X1
X1 adalah Dana Pihak Ketiga Bank Umum periode Januari 2002 – April 2005. Dana Pihak Ketiga adalah dana masyarakat yang dihimpun oleh Bank berupa tabungan, giro, dan deposito.

2. X2
X2 adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan.

3. Y
Y adalah jumlah Dana Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Bank Umum. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem diskonto atau bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar.

4. Jumlah Sampel yang Digunakan, Tempat Pengambilan Sampel, dan Waktu Pengambilan
Sampel yang digunakan adalah 40 sampel (tabel terlampir), yaitu periode Januari 2002 – April 2005. Sampel diambil dari koleksi pustaka Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta Timur. Sampel diambil pada hari Selasa, 27 Mei 2008.

BAB III
PEMBAHASAN

a. Asumsi Klasik
Dari hasil print out, terlihat bahwa:
1. Normalitas
Plotnya mendekati garis diagonal, sehingga data sampel memenuhi asumsi normalitas, yakni data sampel terdistribusi dengan normal.
2. Heterokedasitas
Titik-titiknya tidak membentuk pola atau menyebar baik di daerah positif (+) maupun negatif (-), maka dapat dikatakan tidak ada masalah heterokedasitas.
3. Multikolinieritas
Nilai VIF pada tabel Coefficients < 5, yakni 2,030 sehingga dapat dikatakan tidak ada masalah multikolinieritas.
4. Autokorelasi
Nilai d Durbin-Watson pada print out adalah 1,815. Nilai tabel Durbin-Watson adalah dl = 1,39 dan du = 1,60. Jika dimasukkan ke dalam batang interval akan terlihat seperti berikut.
α = 0,05
n = 40
k = 2
Karena nilai d Durbin-Watson print out berada pada interval du – 4-du (tidak ada korelasi), maka tidak ada masalah autokorelasi.
Dari pemaparan di atas dapat dikatakan data sampel memenuhi ke-empat asumsi klasik karena tidak ada masalah pada ke-empat uji asumsi klasik tersebut.

b. Fungsi Regresi dan Interprestasinya
Dari hasil print out, dapat dibuat fungsi regresi sebagai berikut'
Y = β0 + β1 + β2 + ε
(Sβ0) (Sβ1) (Sβ2)

Y = 249908,6 – 1,410X1 – 6075,679X2 + ε
(19689,735) (0,210) (822,872)

Di mana,
β0 = konstanta = 249908,6
β1 = koefisien regresi = -1,410
β2 = koefisien regresi = -6075,679
ε = disturbance error
Sβ0 = standard error = 19689,735
Sβ1 = 0,210
Sβ2 = 822,872
– Jika X1 = X2 = 0, maka Y = 249908,6.
– Jika X1 naik 1 satuan, X2 tetap, maka Y turun 1,410 kali.
– Jika X1 tetap, X2 naik 1 satuan, maka Y turun 6075,679 kali.

c. Uji F
Uji F adalah menguji secara bersama-sama seluruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dengan membandingkan nilai signifikan pada tabel Anova dan nilai α. Berdasarkan print out, nilai signifikan = 0,000 < nilai α = 0,05. Karena lebih kecil, H0 ditolak, berarti signifikan. Secara statistik seluruh variabel bebas (konstanta, X1, dan X2) mempunyai pengaruh terhadap variabel tidak bebas (Y).

d. Uji t
Uji t adalah menguji masing-masing variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dengan membandingkan nilai signifikan pada tabel Coefficients dan nilai α.
1. Uji terhadap X1 (koefisien regresi)
Nilai signifikan = 0,000 < nilai α = 0,05. Karena lebih kecil, H0 ditolak, berarti signifikan. Secara statistik X1 mempunyai pengaruh terhadap Y.
2. Uji terhadap X2 (koefisien regresi)
Nilai signifikan = 0,000 < nilai α = 0,05. Karena lebih kecil, H0 ditolak, berarti signifikan. Secara statistik X2 mempunyai pengaruh terhadap Y.
3. Uji terhadap konstanta
Nilai signifikan = 0,000 < nilai α = 0,05. Karena lebih kecil, H0 ditolak, berarti signifikan. Secara statistik konstanta mempunyai pengaruh terhadap Y.

e. Uji Secara Substansi
Berdasarkan fungsi regresi yang didapat, yaitu:

Y = 249908,6 – 1,410X1 – 6075,679X2 + ε
(19689,735) (0,210) (822,872)

Dimana,
X1 = Dana Pihak Ketiga/DPK Bank Umum
X2 = suku bunga SBI
Y = dana SBI Bank Umum
Maka,
– Jika jumlah DPK Bank Umum naik, suku bunga SBI tetap, maka dana SBI Bank Umum akan menurun.
– Jika jumlah DPK Bank Umum tetap, suku bunga SBI naik, maka dana SBI Bank Umum akan menurun.
Namun faktanya, jika jumlah DPK Bank Umum dan atau suku bunga SBI naik, maka dana SBI Bank Umum akan meningkat. Karena, Bank Umum akan mendapatkan uang tambahan dari bunga tersebut lebih banyak secara pasti. Lain halnya ketika Bank Umum mengalokasikan DPK ke para debitur. Bukan tidak mungkin terjadi wanprestasi. Hal ini juga yang menjadi kritik terhadap Perbankan Konvensional oleh Perbankan Syariah karena tidak terjadinya keseimbangan antara sektor riil dan moneter.

f. Nilai R2 dan R
R2 adalah koefisien determinant atau koefisien penentu yang menyatakan seberapa besar variabel Y dapat dijelaskan oleh X1 dan X2. Pada tabel Model Summaryb terlihat nilai R2 atau R Square = 0,614. Berarti Y dapat dijelaskan oleh X1 dan X2 sebesar 61,4 %, selebihnya 38,6 % dijelaskan oleh faktor lain.
R adalah koefisien yang menyatakan kuat lemahnya hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas. Pada tabel Model Summaryb terlihat nilai R = 0,783. Berarti hubungan antara X1 dan X2 dengan Y, kuat dan positif. Jika X1 dan X2 naik, maka Y naik.

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan dari pemaparan bab sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut.
– Asumsi klasik:
1. Normalitas: Memenuhi asumsi normalitas
2. Heterokedasitas: Tidak ada masalah
3. Multikolinieritas: Tidak ada masalah
4. Autokorelasi: Tidak ada masalah

– Fungsi regresi dan interprestasinya:
Y = 249908,6 – 1,410X1 – 6075,679X2 + ε
(19689,735) (0,210) (822,872)
Jika X1 = X2 = 0, maka Y = 249908,6.
Jika X1 naik 1 satuan, X2 tetap, maka Y turun 1,410 kali.
Jika X1 tetap, X2 naik 1 satuan, maka Y turun 6075,679 kali.

– Uji F: Signifikan

– Uji t:
1. Uji terhadap X1: Signifikan
2. Uji terhadap X2: Signifikan
3. Uji terhadap konstanta: Signifikan

– Uji secara substansi:
Berdasarkan fungsi regresi yang didapat:
– Jika jumlah DPK Bank Umum naik, suku bunga SBI tetap, maka dana SBI Bank Umum akan menurun.
– Jika jumlah DPK Bank Umum tetap, suku bunga SBI naik, maka dana SBI Bank Umum akan menurun.
Namun faktanya, jika jumlah DPK Bank Umum dan atau suku bunga SBI naik, maka dana SBI Bank Umum akan meningkat.

– Nilai R2: Y dapat dijelaskan oleh X1 dan X2 sebesar 61,4 %, selebihnya 38,6 % dijelaskan oleh faktor lain.

– Nilai R: Hubungan antara X1 dan X2 dengan Y, kuat dan positif (0,783).

Referensi:
Amalia. 2008. Catatan Statistika Ekonomi II.
Hendra Kholid. 2008. Bahan Pengantar Diskusi Perbankan Syariah.
Koleksi Pustaka Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS).
id.wikipedia.org

PERBANKAN SYARIAH

BAB I
PENDAHULUAN

Perbankan adalah suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum muslimin, fungsi-fungsi bank telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW. Fungsi-fungsi tersebut adalah menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang. Namun, fungsi-fungsi tersebut dijalankan oleh individu-individu. Sehingga belum dikenal istilah perbankan Islam atau perbankan syariah.
Lahirnya ekonomi Islam, termasuk di dalamnya perbankan syariah disebabkan oleh dua faktor. Pertama, ajaran agama yang melarang riba dan menganjurkan sadaqah. Kedua, timbulnya surplus dollar dari negara-negara penghasil dan pengekspor minyak dari Timur Tengah dan negara-negara Islam di mana mereka pada akhirnya membutuhkan institusi keuangan Islami untuk menyimpan dana mereka.
Di Indonesia ekonomi syariah mulai dikenal sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991. Selanjutnya ekonomi berbasis syariah di Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada dasarnya, sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah menjadi kewajiban bagi Indonesia untuk menerapkan ekonomi syariah sebagai bukti ketaatan dan ketundukan masyarakatnya pada Allah dan Rasul-Nya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian, dasar hukum, dan tujuan berdiri
Perbankan syariah adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama Islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram. Misalnya, usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media yang tidak Islami, dan lain-lain, di mana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.
Dari semua agama samawi, tidak ada satupun yang menghalalkan praktik riba dan ini termuat dalam:
1. Perjanjian lama kitab Exodus (keluaran) pasal 22 ayat 25 “jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih utang terhadap dia, janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.”
2. Deuteronotif (kitab ulangan) pasal 23 ayat 19 “janganlah engkau membungakan uang kepada saudaramu uang maupun bahan makanan atau apa saja yang dapat dibungakan.”
Dalam al-Qur’an, banyak disebutkan larangan praktik riba antara lain:
1. Q.S. al-Baqarah : 275-276
2. Q.S. Al-Baqarah : 278-279
3. Q.S. Ali-Imron : 130
4. Q.S. An-Nisaa’ : 161
5. Q.S. Al-Rum : 39

Perbankan syariah dapat dilaksanakan di Indonesia berdasarkan UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan. Dengan diperkenalkannya jenis bank berdasarkan prinsip syariah, maka sistem perbankan Indonesia saat ini, di samping bank konvensional yang kita kenal selama ini, bank dapat pula memilih kegiatan usaha berdasarkan syariah.
Menurut Handbook of Islamic Banking, tujuan dasar dari perbankan Islam ialah menyediakan fasilitas keuangan dengan cara mengupayakan instrumen-instrumen keuangan (financial instruments) yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan norma-norma syariah.
Adapun tujuan lain berdirinya bank syariah adalah sebagai berikut:
Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bemuamalat secara Islam, khususnya muamalat yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari praktek-praktek riba atau perdagangan lain yang mengandung unsur gharar (tipuan), di mana usaha-usaha tersebut dilarang oleh Islam.
Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang berusaha yang lebih besar terutama kalangan miskin yang diarahkan kepada kegiatan usaha produktif menuju terciptanya kegiatan berusaha yang produktif.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter. Dengan aktivitas bank syariah akan mampu menghindari kemelut ekonomi yang diakibatkan inflasi, menghindari persaingan yang tidak sehat di antara lembaga keuangan.

B. Perbedaan antara Bank Syariah dan Konvensional
Secara sederhana, perbedaan antara bank syariah dan konvensional dapat dilihat pada tabel berikut.
Perbedaan antara bank syariah dan konvensional
No. Bank Syariah Bank Konvensional
1. Melakukan investasi-investasi yang halal saja. >< Besarnya imbalan disesuaikan keuntungan.
Sumber: Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan Perbankan Edisi ke Lima.

C. Sejarah lahir dan berkembangnya Bank Syariah di berbagai negara
Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel Islam, karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. Pemimpin perintis usaha ini adalah Ahmad El Najjar. Ia mengambil bentuk sebuah bank simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun 1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung.
Masih di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social Bank didirikan dan mendeklarasikan diri sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan rujukan kepada agama maupun syariat Islam.
Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun 1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam, walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antarpemerintah yang bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara anggotanya. IDB menyediakan jasa finansial berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah Islam.
Di belahan negara lain pada kurun 1970-an, sejumlah bank berbasis Islam kemudian muncul. Di Timur Tengah antara lain berdiri Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977), serta Bahrain Islamic Bank (1979). Di Asia-Pasifik, Phillipine Amanah Bank didirikan tahun 1973 berdasarkan dekrit Presiden, dan di Malaysia tahun 1983 berdiri Muslim Pilgrims Savings Corporation yang bertujuan membantu mereka yang ingin menabung untuk menunaikan ibadah haji. Saat ini, terdapat tak kurang dari 50 bank syariah di seluruh dunia.
Berikut ini akan disajikan tabel perkembangan bank syariah di dunia selama kurun waktu 1940 – 1980.
Perkembangan Bank Syariah di Dunia Selama Kurun Waktu 1940 – 1980
Tahun Keterangan
1940: Rintisan Bank Syariah di Malaysia, untuk mengelola dana jamaah haji secara non-konvensional.
1963: Berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank, di Mesir, oleh Ahmad El Najjar.
1967: Mit Ghamr ditutup karena alasan politis dan diambil alih oleh National Bank of Egypt.
1969: Muncul gagasan kolektif pembentukan Bank Syariah pada Konferensi Negara-negara Islam se-dunia di Malaysia.
1970: Delegasi Mesir mengajukan proposal pendirian Bank Syariah pada Sidang Menteri Luar Negeri Negara-negara OKI di Karachi.
1972: Berdiri kembali sistem bank tanpa bunga yang bersifat sosial di Mesir, yaitu Nasser Social Bank.
Maret 1972: Usulan/proposal Delegasi Mesir diagendakan kembali dan memutuskan membentuk komisi khusus menangani masalah ekonomi dan keuangan.
Juli 1973: Para ahli yang mewakili Negara Islam penghasil minyak membicarakan Pendirian Bank Syariah dan terumuskanlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Mei 1974: Pembahasan AD/ART yang telah dirumuskan.
1974: Berdiri Islamic Development Bank dengan modal awal 2 miliar Dinar atau sama dengan 2 miliar SDR (Special Drawing Rights) IMF.
Awal 1980-an: Bermunculan Lembaga Keuangan Syariah di Mesir, Sudan, negara-negara di wilayah Teluk, Malaysia, Pakistan, Inggris, Denmark, Bahmas, Swiss, dan Luxemburg.
Sumber: http://www.lebi.fe.ugm.ac.id

D. Perbedaan IDB, Bank Syariah, dan BPRS
IDB atau Islamic Development Bank adalah lembaga keuangan yang menyediakan bantuan finansial bagi pembangunan negara-negara anggotanya, membantu mereka untuk mendirikan bank syariah di negaranya masing-masing, dan memainkan peranan penting untuk dalam penelitian ilmu ekonomi, perbankan, dan keuangan Islam. Bank ini lahir pada bulan Oktober 1975 dengan beranggotakan 22 negara pendiri. Lahirnya IDB diprakarsai oleh OKI atau Organisasi Konferensi Islam.
Bank syariah, sebagaimana pembahasan di halaman sebelumnya, adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah. Sedangkan BPRS atau Bank Perkreditan Rakyat Syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bentuk hukumnya dapat berupa Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, atau Perusahaan Daerah sesuai dengan Pasal 2 PBI 6/17/PBI/2004.

E. Perkembangan dan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia
Konsep untuk mendirikan Bank Syariah di Indonesia sudah muncul sejak tahun 1970-an, yaitu tahun 1974 dalam seminar nasional Hubungan Indonesia-Timur Tengah, dan tahun 1976 dalam seminar internasional yang diselenggarakan Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan (LSIK) dan Yayasan Bhineka Tunggal Ika. Tetapi, hal tersebut tidak dapat secara cepat dapat diterapkan, hal ini karena:
1. Operasi bank syariah yang menerapkan prinsip bagi hasil belum diatur, dan karena itu, tidak sejalan dengan UU Pokok Perbankan yang berlaku, yakni UU No.14/1967.
2. Konsep bank syariah dari segi politis berkonotasi ideologis, atau berkaitan dengan konsep negara Islam, dan karena itu tidak dikehendaki pemerintah.
3. Penanam modal belum ada, karena pada saat itu pendirian bank baru dari Timur Tengah masih dicegah, antara lain pembatasan bank asing yang ingin membuka kantornya di Indonesia.
Kemudian gagasan mengenai bank syariah muncul kembali pada tahun 1988, yaitu pada saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober (Pakto) yang berisi mengenai liberalisasi industri perbankan. Setelah dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 22-25 Agustus 1990 di Jakarta dibentuklah kelompok kerja untuk mendirikan bank syariah di Indonesia.
Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja tim Perbankan MUI, dengan saham awal sebesar Rp 84 miliar. Pada tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia (BMI) mulai beroperasi. Bank ini sempat terimbas oleh krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba.
Hingga akhir tahun 2007 terdapat tiga institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Syariah Mega Indonesia. Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 26 bank di antaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia (Persero)dan juga terdapat 114 BPRS.
Pada akhir tahun 2006, total asset perbankan syariah mencapai Rp 26,7 triliun. Kemudian akhir tahun 2007, mencapai Rp 36,5 triliun sehingga ada peningkatan sebanyak 36,7 %. Sedangkan pertumbuhan bank umum hanya 17,3%. Dari keseluruhan data tersebut, jumlah nasabah per Januari 2008 mencapai 2,98 juta nasabah.

F. Peraturan hukum terkait dengan Bank Syariah
Secara teoritis bank syariah baru dirintis sejak tahun 1940-an dan secara kelembagaan baru dapat dibentuk pada tahun 1960-an. Di Indonesia kenyataannya baik secara teoritis maupun kelembagaan, perkembangan bank syariah bahkan lebih kemudian. Eksistensi bank syariah secara hukum positif dimungkinkan pertama kali melalui Pasal 6 huruf m Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Pasal 6 huruf m beserta penjelasannya tidak mempergunakan sama sekali istilah Bank Islam atau Bank Syariah sebagaimana dipergunakan kemudian sebagai istilah resmi dalam UUPI, namun hanya menyebutkan: "menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah".
Di dalam Pasal 5 ayat (3) PP No. 70 Tahun 1992 tentang Bank Umum pun hanya disebutkan frase "Bank Umum yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil" dan di penjelasannya disebut "Bank berdasarkan prinsip bagi hasil". Begitu pula dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. 71 Tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat hanya menyebutkan frase "Bank Perkreditan Rakyat yang akan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip bagi hasil" yang dalam penjelasannya disebut "Bank Perkreditan Rakyat yang berdasarkan bagi hasil".
Kesimpulan bahwa "bank berdasarkan prinsip bagi hasil" merupakan istilah bagi Bank Islam atau Bank Syariah baru dapat ditarik dari Penjelasan Pasal 1 ayat (1) PP No. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Dalam penjelasan ayat tersebut
ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan prinsip bagi hasil adalah prinsip muamalat berdasarkan syariah dalam melakukan kegiatan usaha bank.
Melihat ketentuan-ketentuan yang ada dalam PP No. 72 Tahun 1992, keleluasaan untuk mempraktikkan gagasan perbankan berdasarkan syariah Islam terbuka seluas-luasnya, terutama berkenaan dengan jenis transaksi yang dapat dilakukan. Pembatasan hanya diberikan dalam hal:
1. Larangan melakukan kegiatan usaha yang tidak berdasarkan prinsip bagi hasil.
2. Kewajiban memiliki Dewan Pengawas Syariah yang bertugas melakukan pengawasan atas produk perbankan baik dana maupun pembiayaan agar berjalan sesuai dengan prinsip syariah, di mana pembentukannya dilakukan oleh bank berdasarkan hasil konsultasi dengan MUI.
Pada saat berlakunya UU No. 7 Tahun 1992, selain ketiga PP tersebut di atas tidak ada lagi peraturan perundangan yang berkenaan dengan Bank Syariah. Perkembangan lain yang patut dicatat berkaitan dengan perbankan syariah pada saat berlakunya Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan adalah berdirinya Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI).
Pada tahun 1998 eksistensi Bank syariah lebih dikukuhkan dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam Undang-undang tersebut, sebagaimana ditetapkan dalam angka 3 jo. angka 13 Pasal 1 Undang-undang No. 10 Tahun 1998, penyebutan terhadap entitas perbankan Islam secara tegas diberikan dengan istilah Bank Syariah atau Bank Berdasarkan Prinsip Syariah.
Pada tanggal 12 Mei 1999, Direksi Bank Indonesia mengeluarkan tiga buah Surat Keputusan sebagai pengaturan lebih lanjut Bank Syariah sebagaimana telah dikukuhkan melalui Undang-undang No. 10 Tahun 1998, yakni:
1. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/33/KEP/DIR tentang Bank Umum, khususnya Bab XI mengenai Perubahan Kegiatan Usaha dan Pembukaan Kantor Cabang Syariah;
2. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/34/KEP/DIR tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah; dan
3. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah.
Selanjutnya berkenaan dengan operasional dan instrumen yang dapat dipergunakan Bank Syariah, pada tanggal 23 Februari 2000 Bank Indonesia secara sekaligus mengeluarkan tiga Peraturan Bank Indonesia, yakni:
1. Peraturan Bank Indonesia No. 2/7/PBI/2000 tentang Giro Wajib Minimum Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Yang Melakukan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, yang mengatur mengenai kewajiban pemeliharaan giro wajib minimum bank umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah;
2. Peraturan Bank Indonesia No. 2/8/PBI/2000 tentang Pasar Uang Antar
Bank Berdasarkan Prinsip Syariah, yang dikeluarkan dalam rangka
menyediakan sarana penanaman dana atau pengelolaan dana antarbank berdasarkan prinsip syariah; dan
3. Peraturan Bank Indonesia No. 2/9/PBI/2000 tentang Sertifikat Wadiah
Bank Indonesia (SWBI), yakni sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip Wadiah yang merupakan piranti dalam pelaksanaan pengendalian moneter semacam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam praktik perbankan konvensional.
Di samping peraturan-peraturan tersebut di atas, terhadap jenis kegiatan, produk, dan jasa keuangan syariah, Bank Syariah juga wajib mengikuti semua fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), yakni satu-satunya dewan yang mempunyai kewenangan mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan, produk, dan jasa keuangan syariah, serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia.

G. Dampak pertumbuhan Bank Syariah bagi perkembangan bisnis syariah lainnya
Dalam sistem keuangan konvensional tidak tercipta keterkaitan antara sektor moneter dengan sektor riil. Seluruh asset dan aktifitas ekonomi dikendalikan oleh transaksi-transaksi yang didasari oleh suku bunga sehingga menjadi salah satu sebab orang meminta uang untuk motif spekulasi dan kecenderungan meninggalkan motif transaksi sudah menjadi fenomena yang mengglobal. Sehingga perkembangan sektor moneter jauh meninggalkan sektor riil.
Dalam perbankan syariah harus terjadi keterikatan dan keseimbangan antara sektor moneter dan sektor riil. Sektor moneter tidak boleh berjalan sendiri meninggalkan sektor riil. Keterikatan pada akad-akad syariah bersifat mutlak, maka pada sisi asset tidak akan terjadi perubahan pada marjin walaupun bunga berubah, karena harga jual telah disepakati di awal akad. Sementara pada akad pembiayaan seperti mudharabah dan musyarakah, pendapatan bagi hasil bank akan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor riil. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai kesempatan yang luas untuk berusaha dikarenakan sistem bunga bank tidak ada di dalam bank syariah. Sehingga pendapatan per kapita naik, produksi meningkat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi nasional meningkat pula.
Menurut Prof. Mas'udul Alam Choudury seorang pakar ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar harus dikaitkan dengan sektor riil atau sesuai dengan kebutuhan sektor ini, sehingga pertumbuhan money supply sama dengan pertumbuhan output. Berbeda dengan sistem bunga, di mana money supply jauh di atas keperluan sektor riil, hal ini pula yang menjadikan terjadinya instabilitas pada harga uang yang mengundang spekulasi dalam money demand. Pertumbuhan ekonomi dengan karakteristik seperti ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang sangat rapuh atau yang biasa disebut sebagai bubble growth economy.

H. Prospek, kendala, dan strategi pengembangan Bank Syariah
Segala sesuatu perlu proses. Begitu pula halnya dalam pengembangan bank syariah. Dalam pengembangan tersebut, terdapat prospek, kendala yang dihadapi, dan strategi apa yang harus dilakukan.
Prospek bank syariah di Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.
2. Kesadaran masyarakat untuk berperilaku ekonomi secara Islami semakin tumbuh.
3. Potensi investasi dari negara Timur Tengah dalam industri perbankan syariah nasional.
4. Berkembangnya instrumen keuangan syariah yang diharapkan akan semakin menarik industri perbankan syariah nasional.
Sedangkan kendala yang dihadapi oleh industri perbankan syariah, antara lain sebagai berikut:
1. Masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum memahami dan mengenal perekonomian yang berbasis syariah secara menyeluruh.
2. Dukungan penuh dari para pengambil kebijakan di negeri ini, terutama menteri-menteri dan lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang dalam menentukan kebijakan ekonomi belum memadai.
3. Jaringan bank syariah masih sangat terbatas.
4. Sumber daya insani yang memiliki kompetensi di bidang perbankan syariah masih kurang.
5. Minimnya gerakan sosialisasi ekonomi syariah.
6. Masyarakat sudah terlanjur lekat dengan praktik-praktik perbankan konvensional.
7. Tingkat kesiapan bank syariah menghadapi pasar bebas.
Untuk itu diperlukan strategi dalam mengembangkannya, antara lain sebagai berikut:
1. Mengupayakan edukasi kepada publik secara terencana dan terkoordinasi.
2. Penyederhanaan dan kemudahan dalam membuka kantor outlet.
3. Menyediakan informasi pasar/permintaan jasa perbankan syariah.
4. Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan atau jenjang pendidikan yang memasukkan kurikulum perbankan syariah.
5. Mengharuskan pelaku ekonomi syariah memiliki worldview yang menjadikan Islam sebagai sistem hidup yang mengatur semua sisi kehidupannya dan komitmen mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
6. Mengoperasionalisasikan secara konsisten filosofi dasar bank syariah yang berbeda dengan filosofi dasar bank konvensional.
7. Melakukan standardisasi kualitas di tingkat internasional.

BAB III
KESIMPULAN

Perbankan syariah merupakan solusi yang harus dijalankan dalam membangun sistem ekonomi yang kuat yang berbasis kerakyatan dan keadilan. Sistem perbankan syariah akan dapat meningkatkan pertumbuhan sektor usaha (riil), menjalin kemitraan, tidak rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi makro (krisis moneter), dan terbebas dari negative spread. Sistem perekonomian Islam akan mampu menjawab dan menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapi umat manusia tanpa sedikitpun melanggar ketentuan dan hukum Allah.

LAMPIRAN 1

Kami telah melakukan observasi atau wawancara pada salah satu BUS, yaitu Bank Syariah Mandiri cabang Rawamangun – Jakarta. Berikut ini hasil wawancara kami dari segi analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threatment).
a. Strength (kekuatan)
 Tingginya permintaan nasabah terhadap produk syariah.
 Sosialisasi produk dan bisnis syariah yang telah meluas.
 Produk yang kompetitif dengan produk bank konvensional.

b. Weakness (kelemahan)
 Kurangnya kualitas dan kuantitas SDI.
 Pelayanan yang masih kurang maksimal.
 Biaya operasional yang kurang kompetitif dengan bank lain.
 Kurangnya penguasaan teknis terhadap produk.
 Terbatasnya jangka waktu pembiayaan sedangkan kemampuan, penghasilan, dan daya beli masyarakat sedang menurun.

c. Opportunity (peluang)
 Lingkungan yang strategis dan masyarakat yang cukup terpelajar.
 Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk bank syariah.
 Keinginan masyarakat bertransaksi berdasarkan prinsip syariah.

d. Threatment (tantangan)
 Telah dikenalnya bisnis perbankan yang berbasis syariah di Indonesia. Sehingga perlu ada peningkatan dari segi kualitas dan kuantitas SDI.
 Permintaan nasabah yang tinggi terhadap produk bank yang berlandaskan syariah, sehingga bank syariah harus mampu menyediakan produk-produk yang kompetitif dengan bank konvensional.
 Bank syariah harus mampu mengubah persepsi masyarakat yang masih menganggap bahwa sistem bagi hasil kurang menguntungkan dibanding sistem bunga pada bank konvensional.

Referensi:
Bank Indonesia. 2006. Buku Saku Perbankan Syariah.
Karim, Adiwarman A. 2007. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan Edisi ke Tiga. Rajawali Pers: Jakarta.
Lewis, Mervyn K. dan Latifa M. Algaoud. 2007. Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek. Serambi Ilmu Semesta: Jakarta.
Majalah Perbankan no. 123 (Desember 2007 – Januari 2008).
Republika. 2008. Direktori Syariah 2008.
Rifai, Moh. 2002. Konsep Perbankan Syariah. Wicaksana: Semarang.
Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan Perbankan Edisi ke Lima. LPFEUI: Jakarta.
Sjahdeini, Sutan Remy. 2005. Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia. Pustaka Utama Grafiti: Jakarta.
Sumitro, Warkum. 2002. Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait: BMI & Takaful di Indonesia. Rajawali Press: Jakarta.
Wirdyaningsih, dkk. 2005. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia. Kencana Prenada Media: Jakarta.
id.wikipedia.org
http://www.muamalatbank.com
http://www.sebi.ac.id
http://www.lebi.fe.ugm.ac.id
http://www.republika.co.id

HUKUM SEBAGAI INSTITUSI SOSIAL

Hukum adalah suatu sistem aturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. Salah satu fungsinya yaitu sebagai institusi sosial dimana hukum menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat agar tercipta keadilan dan ketentraman. Sehingga masyarakat dapat hidup dengan damai tanpa ada konflik.

Jika mengidentifikasi hukum sebagai institusi sosial, maka kita akan mengamati hukum lebih dari suatu sistem peraturan belaka, melainkan juga bagaimana hukum menjalankan fungsi-fungsi sosial dalam dan untuk masyarakat. Sebelum masuk ke dalam pembahasan utama, terlebih dahulu akan dipaparkan “apa itu institusi sosial?”.
Menurut Koentjaraningrat, institusi sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas—aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa masyarakat sangat membutuhkan kehadiran institusi. Kebutuhan tersebut harus mendapatkan pengakuan oleh masyarakat karena pentingnya ia bagi kehidupan manusia. Sehingga masyarakat mengusahakan agar ia bisa dipelihara dan diselenggarakan secara seksama.
Keadilan merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup manusia yang umumnya diakui di semua tempat di dunia ini. Karena itu, dibentuklah institusi sosial bernama hukum agar keadilan dapat terselenggara secara seksama dalam masyarakat. Ada beberapa ciri yang umumnya melekat pada institusi, yaitu:
1. Stabilitas. Hukum sebagai institusi sosial harus menimbulkan suatu kemantapan dan keteraturan dalam usaha manusia untuk memperoleh keadilan.
2. Memberikan kerangka sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat.
3. Adanya norma-norma.
4. Ada jalinan antar institusi.
Karena institusi sengaja dibentuk, maka tidak serta merta ia menjadi sempurna. Proses untuk membuat institusi menjadi makin efektif disebut penginstitusionalan. Di setiap negara tentunya proses ini akan berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing.
Hukum merupakan institusi sosial yang tujuannya adalah untuk menyelenggarakan keadilan dalam masyarakat. Penyelenggaraan tersebut berkaitan dengan tingkat kemampuan masyarakat itu sendiri untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan cara dalam penyelenggaraannya di berbagai tempat. Perbedaan ini berhubungan erat dengan persediaan perlengkapan yang terdapat dalam masyarakat. Sehingga sebagai institusi sosial, kita dapat melihat hukum dalam kerangka yang luas, melibatkan berbagai proses dan kekuatan dalam masyarakat.

Referensi:
Satjipto Rahardjo. 2000. Ilmu Hukum. PT Citra Aditya Bakti: Jakarta.
Soerjono Soekanto. 2004. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
————————–. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
http://www.wikipedia.co.id

PERILAKU KONSUMSI dalam EKONOMI MAKRO

Pada dasarnya, manusia melakukan kegiatan konsumsi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, baik jasmani maupun rohani agar eksistensinya terjaga. Perilaku setiap individu dalam melakukan konsumsi jelas sangat berbeda karena kebutuhan setiap individu tersebut juga berbeda. Perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh berbedanya pendapatan dan latar belakang. Begitulah teori yang dijelaskan dalam ekonomi konvensional. Namun, lain halnya dalam Islam. Dalam Islam, diatur segenap perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Termasuk di dalamnya masalah konsumsi.

Prinsip Konsumsi dalam Islam
Menurut Abdul Mannan, dalam melakukan konsumsi terdapat lima prinsip dasar, yaitu:
1. Prinsip keadilan
Artinya, sesuatu yang dikonsumsi itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan dengan hukum.
2. Prinsip kebersihan
Dalam al-Qur’an maupun Sunnah disebutkan bahwa makanan itu harus baik atau cocok untuk dikonsumsi, tidak kotor, ataupun menjijikkan sehingga merusak selera.
3. Prinsip kesederhanaan
Artinya, dalam mengonsumsi sesuatu tidak berlebih-lebihan. Hal ini dijelaskan antara lain dalam Q.S. al-A’raaf ayat 31.
“…..makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
4. Prinsip kemurahan hati
5. Prinsip moralitas

Selain itu, dalam berkonsumsi seorang muslim juga mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Manusia tidak mampu sepenuhnya mengatur detail permasalahan ekonomi masyarakat atau negara.
2. Dalam konsep Islam pola konsumsi dibentuk oleh kebutuhan.
3. Dalam berkonsumsi seorang muslim harus menyadari bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat.

Batasan Konsumsi dalam Islam
Bagi seorang muslim, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Tolak ukur keimanan menjadi sangat penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung memengaruhi kepribadian manusia, baik dalam bentuk perilaku, gaya hidup, selera, maupun sikap terhadap sesama manusia. Keimanan sangat berpengaruh terhadap sifat, kuantitas, dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Dengan adanya keimanan, seorang individu akan berhati-hati dalam mengonsumsi pendapatannya.
Misalnya, seorang pekerja berpendapatan 3 juta sebulan. Total konsumsi pokoknya selama sebulan adalah 1,5 juta. Sisa pendapatannya bisa saja ia manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersiernya. Tetapi karena faktor keimanan, ia lebih memilih untuk melakukan amal saleh, baik itu untuk zakat maupun sedekah.
Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 168-169 disebutkan bahwa:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Sesungguhnya setan hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Batasan konsumsi di atas tidak hanya berlaku bagi makanan dan minuman, tetapi juga mencakup jenis-jenis komoditi lainnya. Quraish Shihab menjelaskan dalam Tafsir al-Misbah, komoditi yang haram itu ada dua, yaitu haram karena zatnya dan haram karena sesuatu yang bukan dari zatnya. Haram karena zatnya, seperti babi dan darah. Haram karena sesuatu yang bukan dari zatnya, seperti makanan yang tidak diizinkan oleh pemiliknya untuk dimakan dan berdampak negatif.

Konsumsi Agregat dalam Ekonomi Islam
Secara makro Islam, perekonomian terdiri dari dua karakteristik yang berbeda, yaitu muzakki dan mustahiq. Muzakki adalah golongan pembayar zakat. Sedangkan, mustahiq adalah golongan penerima zakat. Dua golongan ini mempunyai model konsumsi yang berbeda.
Golongan pertama, final spendingnya adalah Cz (total konsumsi muzakki) dikurangi Zy (zakat pendapatan), In (infak), Sh (Shadaqah), dan Wf (Wakaf). Golongan kedua, final spendingnya adalah Z (zakat yang diterima) atau Y (pendapatan) ditambah Z. Jika dibuat persamaan adalah sebagai berikut.

FS = Cz – (Zy + In + Sh + Wf) …(1)
FS = Z …(2)
FS = Y + Z…(3)

Persamaan (2) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori fakir, ibnussabil, dan fisabilillah. Tiga kategori ini tidak memiliki pendapatan sehingga Co (konsumsi primer)-nya sama dengan zakat yang diterima. Sedangkan persamaan (3) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori miskin. Kategori ini memiliki pendapatan tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehingga harus dipenuhi oleh zakat.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat yang diterima oleh mustahiq menentukan tingkat konsumsinya. Sedangkan bagi muzakki, zakat akan mengurangi final spending-nya. Tetapi hal itu dirasa tidak memberatkan karena faktor keimanan para muzakki tersebut di mana perilaku konsumsi mereka sangat dipengaruhi. Motif utama konsumsi mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tersier, tetapi juga kebutuhan untuk beramal shaleh.

Sikap Sederhana
Islam sangat menganjurkan untuk hidup sederhana. Sederhana di sini bukan berarti pelit atau menyiksa diri dengan hidup serba kekurangan. Sederhana di sini, maksudnya adalah hidup sewajarnya. Jadi dalam memenuhi kebutuhannya, seorang muslim tidak boleh berlebih-lebihan.
Syariat Islam mengakui prinsip “individu bebas menafkahkan hartanya” dalam hal kebaikan yang dihalalkan Allah. Namun, jika merusak kemaslahatan orang banyak, hal tersebut dilarang. Ibnul Jauzi dalam bukunya Sirah Umar bin Khattab mengisahkan bahwa Umar melarang rakyatnya memakan daging dua hari berturut-turut. Alasannya, daging di pasar pada masa itu sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan seluruh rakyat di Madinah.
Bila sifat sederhana dituntut dalam kehidupan pribadi, maka ia juga dituntut dalam kehidupan bernegara, terutama dalam membelanjakan uang negara. Hal ini berlaku mulai dari kepala negara, menteri, gubernur, sampai jajaran tingkat bawah. Para pemimpin seharusnya menjadi suri tauladan bagi rakyat.

Referensi:
1. Abdul Mannan. 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Dana Bhakti Wakaf: Yogyakarta.
2. Ali Sakti. 2007. Analisis Teori Ekonomi Islam Jawaban atas Kekacauan Ekonomi Modern. AQSA Publishing: Jakarta.
3. Eko Suprayitno. 2005. Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional. Graha Ilmu: Yogyakarta.
4. Heri Sudarsono. 2004. Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar. Ekonisia: Yogyakarta.
5. Muhammad Muflih. 2005. Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam. Rajawali Press: Jakarta.
6. Yusuf Qardhawi. 1997. Norma dan Etika Ekonomi Islam. Gema Insani Press: Jakarta.

PenuLisan Karya ILmiah dan ProposaL Skripsi

Karya ilmiah adalah karya yang ditulis secara ilmiah atau sesuai prosedur ilmiah. Fakta yang disajikan berupa fakta umum yang bersifat objektif. Proposal skripsi adalah usulan skripsi yang dapat disusun oleh mahasiswa paling cepat bersamaan pada saat mengikuti Metodologi Penelitian dan mata kuliah yang cukup. Penulisan karya ilmiah yang baik dan benar terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari halaman sampul dan judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar ilustrasi. Bagian tengah terdiri dari pendahuluan, bab-bab penguraian, dan kesimpulan. Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
Menurut Brotowidjoyo (1985:8-9), “Karya ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar (E. Zaenal Arifin, 2006:1-2).” Sistematika penulisan karya ilmiah terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pembuka, bagian inti karya ilmiah, dan bagian penutup. Bagian pembuka terdiri atas kulit luar, halaman judul, halaman pengesahan, halaman penerimaan, prakata, daftar tabel, daftar grafik, bagan, atau sketsa, daftar singkatan, dan lambang. Bagian inti terdiri dari bab pendahuluan, bab pembahasan, dan simpulan dan saran. Bagian penutup terdiri dari daftar pustaka, lampiran, dan indeks jika diperlukan. Usulan penelitian adalah rencana penelitian selengkapnya.

Jenis-Jenis Karya Ilmiah
Secara umum, karya ilmiah dapat dibagi menjadi:
1. Makalah, karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah dengan pembahasan berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Di dalam makalah, masalah disajikan secara deduktif atau induktif. Biasanya, makalah disusun untuk melengkapi tugas-tugas ujian mata kuliah tertentu atau untuk memberikan saran pemecahan tentang suatu masalah secara ilmiah. Makalah menggunakan bahasa yang lugas dan tegas. Makalah merupakan bentuk karya tulis ilmiah paling sederhana.
2. Kertas kerja, juga menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Akan tetapi, analisis dalam kertas kerja lebih serius dibandingkan dengan analisis dalam makalah. Kertas kerja biasanya ditulis untuk disajikan dalam seminar atau lokakarya.
3. Skripsi, karya tulis ilmiah yang disusun dalam rangka menyelesaikan studi tingkat sarjana program strata 1 (S1). Pendapat penulis yang tertuang di dalamnya harus didukung dengan data dan fakta yang obyektif. Jika menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, tebalnya antara 40 sampai 75 halaman. Jika menggunakan bahasa asing, tebalnya 25 sampai 50 halaman. Pembahasan dalam skripsi menggunakan pendekatan komparatif atau aplikatif dari disiplin ilmu yang akan dikembangkan menjadi profesinya.
4. Tesis, disusun untuk menyelesaikan studi tingkat sarjana program strata 2 (S2). Tesis mencoba mengungkapkan persoalan- persoalan ilmiah tertentu dan berusaha untuk memecahkannya. Tebalnya berkisar antara 100 sampai 150 halaman. Uraiannya harus bersifat analitis yang mengarah pada suatu kesimpulan.
5. Disertasi, disusun dalam rangka menyelesaikan program sarjana S3. Pembahasannya bersifat filosofis. Analitis, dan kritis. Kesimpulan yang dihasilkan harus mengandung pendapat baru. Tebalnya antara 150 sampai 250 halaman.

Konvensi Naskah Karya Ilmiah
1. Bahan
Kertas yang digunakan sebaiknya kertas HVS berukuran kuarto (21,5 x 28 cm2). Untuk kulitnya, kertas yang digunakan adalah kertas yang agak tebal. Usahakan hanya terdapat satu bentuk huruf dalam suatu karya ilmiah.
2. Margin
Atas: 4 cm
Kiri: 4 cm
Bawah: 3 cm
Kanan: 3 cm
3. Penomoran
Penomoran yang lazim digunakan adalah angka Romawi kecil, angka Romawi besar, dan angka Arab. Angka Romawi kecil (i, ii, iii, iv) dipakai untuk menomori halaman bertajuk prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar bagan, daftar skema, daftar singkatan dan lambang. Angka Romawi besar (I , II, III, IV) digunakan untuk menomori halaman bertajuk bab pendahuluan, bab analisis, dan bab simpulan. Angka Arab (1, 2, 3, 4) digunakan untuk menomori halaman-halaman naskah mulai bab pendahuluan sampai halaman terakhir, kecuali daftar pustaka dan lampiran.

Sistematika Karya Ilmiah
– Bagian Pembuka
1. Halaman Judul
Pada halaman judul tercantum judul karya ilmiah dan keterangannya (jika ada), maksud penyusunan, nama penyusun dan nomor induk mahasiswa, nama jurusan, fakultas, universitas atau sekolah tinggi, kota, dan tahun penyusunan.
2. Halaman Pengesahan
Halaman ini disediakan untuk mencantumkan nama-nama dosen pembimbing, nama ketua jurusan, dan nama dekan yang bertanggung jawab akan kesahihan karya ilmiah. Istilah-istilah yang digunakan oleh setiap perguruan tinggi berbeda-beda. Pada halaman ini juga dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun persetujuan.
3. Prakata
Prakata ditulis untuk memberikan gambaran umum tentang penulisan karya ilmiah. Prakata hendaklah disajikan secara singkat tetapi jelas. Prakata terdiri atas puji syukur kepada Tuhan, penjelasan tentang pelaksanaan penyusunan karya ilmiah, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, dan nama tempat, tanggal, bulan, tahun, dan nama penyusun.
4. Daftar tabel
5. Daftar grafik, bagan, atau skema
6. Daftar singkatan dan lambang

– Bagian Inti
1. Bab Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Bagian ini harus mencantumkan alasan penulis mengambil judul tersebut dan manfaat praktis yang dapat diambil dari karya ilmiah tersebut.
b. Tujuan
Bagian ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas, yaitu gambaran hasil yang akan dicapai. Tujuan ini boleh lebih dari satu asal berkaitan dan ada relevansinya dengan judul.
c. Pembatasan Masalah
d. Anggapan Dasar, Hipotesis, dan Kerangka Teori
Anggapan Dasar
Anggapan dasar atau asumsi adalah isi pernyataan umum yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Asumsi ini yang akan mengarahkan penulis dalam mengerjakan penelitiannya. Asumsi harus ringkas, jelas, dan relevan dengan masalah yang dikemukakan.
Hipotesis
Hipotesis adalah isi pernyataan yang berupa generalisasi tentatif (sementara) tentang suatu masalah dan belum pasti kebenarannya. Hipotesis ini yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian. Hipotesis dirumuskan secara jelas dan sederhana.
Kerangka Teori
Kerangka teori berisi prinsip-prinsip teori yang memengaruhi pembahasan.
e. Sumber Data/Populasi dan Sampel
Jika sumber data yang digunakan beragam, dapat digunakan istilah populasi dan sampel. Populasi adalah kumpulan dari seluruh sumber data yang akan diteliti. Sampel adalah contoh obyek yang akan diteliti dan harus dapat mewakili seluruh populasi.
f. Metodologi
Metodologi adalah seperangkat langkah kerja yang tersusun secara sistematis. Metodologi penelitian yang digunakan antara lain wawancara, angket atau kuesioner, dan observasi.
2. Bab Pembahasan
Bab pembahasan merupakan bab yang terpenting dalam penelitian ilmiah. Bagian ini dapat dibagi menjadi beberapa bab. Setiap bab dibagi lagi menjadi anak bab sesuai dengan kebutuhan penelitian. Segala masalah yang akan dijangkau terbicarakan dalam bab ini.
3. Bab Simpulan dan Saran
Simpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Simpulan akan lebih baik dan lebih informatif bila disajikan dalam paragraf-paragraf yang tidak dinomori. Saran tidak selalu diperlukan dalam karya ilmiah.

– Bagian Penutup
1. Daftar Pustaka
Salah satu hal yang mutlak ada pada suatu karya ilmiah adalah daftar pustaka. Pembaca dapat mengetahui sumber acuan yang dijadikan landasan berpijak oleh penulis. Jika buku sebagai pustaka acuan urutannya adalah sebagai berikut.
a. nama penulis atau nama lembaga
b. tahun terbit
c. judul pustaka beserta keterangannya
d. kota terbit
e. nama penerbit
2. Lampiran
Lampiran dapat berupa korpus data, tabel, gambar, bagan, peta, instrumen, transkripsi jika hal-hal tersebut tidak disertakan dalam teks.
3. Indeks
Indeks adalah daftar kata atau istilah yang terdapat dalam karya ilmiah. penulisannya harus secara berkelompok berdasarkan abjad awal kata atau istilah tersebut. Setiap kelompok dipisahkan dengan empat spasi. Indeks bermanfaat untuk memudahkan pembaca mencari kata atau istilah dengan cepat.

Proposal Skripsi
Proposal skripsi sering juga disebut usulan penelitian atau proposal penelitian. Di makalah ini, istilah yang digunakan adalah proposal skripsi. Proposal skripsi adalah rencana penelitian yang diajukan mahasiswa paling cepat bersamaan pada saat mengikuti Metodologi Penelitian dan mata kuliah yang cukup.

Unsur-Unsur Proposal Skripsi
Banyak lembaga tertentu sudah menyiapkan format proposal skripsi khusus tetapi ada beberapa unsur proposal skripsi yang penting, yaitu:
1. Judul Penelitian
Judul merupakan cerminan dari keseluruhan proposal skripsi.
2. Penegasan Masalah
Unsur ini diperlukan untuk memeriksa sejauh mana pemahaman tentang masalah atau topik yang akan diteliti.
3. Latar Belakang Penelitian
Latar belakang penelitian memuat alasan-alasan mengapa masalah tersebut yang diteliti.
4. Tinjauan Kepustakaan
Unsur ini mengemukakan berbagai teori yang mendasari topik penelitian.
5. Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara sehingga perlu pembuktian.
6. Tujuan dan Manfaat Penelitian
7. Metode Penelitian
Unsur ini memaparkan teknik penelitian yang digunakan.
8. Daftar Kepustakaan
Unsur ini merupakan salah satu indikasi apakah mahasiswa sudah menyiapkan diri dengan landasan teori yang berkaitan dengan topiknya atau belum.

Bagian-Bagian Proposal Skripsi
– Bagian Awal
1. Halaman Judul
Halaman judul memuat judul, maksud proposal skripsi, lambang universitas, nama mahasiswa dan Nomor Induk Mahasiswa, nama instansi dan tahun pengajuan proposal skripsi.
2. Halaman persetujuan

– Bagian Utama
1. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Latar belakang membahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan atau mendorong munculnya masalah.
b. Perumusan Masalah
Perumusan masalah berbentuk kalimat pertanyaan yang ringkas, jelas, dan sederhana serta memungkinkan untuk dijawab atau diuji secara ilmiah. Selain itu, rumusan masalah yang baik dapat menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih.
c. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian harus sejalan dan sinkron dengan masalah penelitian yang sudah diformulasikan dalam bentuk rumusan masalah.
d. Keaslian Penelitian
Keaslian penelitian dikemukakan dengan menunjukkan bahwa masalah yang diteliti belum pernah dipecahkan. Jika penelitian tersebut sudah pernah dilakukan, nyatakan dengan tegas perbedaannya.
e. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian umumnya dipilah menjadi dua kategori, yaitu teoretis/akademik dan praktis/fragmatis. Manfaat teoretis terkait dengan kontribusi tertentu dari penyelenggaraan penelitian terhadap perkembangan teori dan ilmu pengetahuan. Manfaat praktis bertalian dengan kontribusi praktis yang diberikan dari penyelenggaraan penelitian terhadap obyek penelitian.
f. Ruang Lingkup Penelitian
Bagian ini menjelaskan tentang pembatasan penelitian dalam aspek metodologi penelitian, variabel yang digunakan, dan keadaan yang tidak menjadi cakupan penelitian.
2. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis tentang teori-teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Teori-teori dan pendapat-pendapat yang dikutip hendaknya bersumber dari pustaka aslinya. Isi tinjauan pustaka harus relevan dengan masalah yang diteliti dan diusahakan dari pustaka terbaru.
3. Landasan Teori
Landasan teori dijabarkan dari tinjauan pustaka dan disusun sendiri oleh mahasiswa sebagai tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian dan merumuskan hipotesis. Landasan teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis atau persamaan-persamaan.
4. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dibuat berupa skema sederhana yang menggambarkan secara singkat proses pemecahan masalah. Skema tersebut menjelaskan tentang mekanisme kerja faktor-faktor yang timbul secara singkat.
5. Hipotesis
Hipotesis dirumuskan berdasarkan landasan teori atau tinjauan pustaka jika landasan teori tidak ada. Hipotesis berbentuk pernyataan singkat.
6. Metode Penelitian
a. Penentuan Lokasi Penelitian
Proposal skripsi perlu mengemukakan alasan-alasan yang tepat sesuai permasalahan dan tujuan penelitian dalam pemilihan suatu daerah sebagai lokasi penelitian.
b. Data Penelitian
Subbab ini menguraikan tentang jenis data yang dikumpulkan, sumber data penelitian, instrumen penelitian, dan metode pengumpulan data. Jenis data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (berupa angka), data kualitatif, data primer (diperoleh langsung dari responden), dan data sekunder. Instrumen penelitian dapat berupa kuesioner, kamera, dan lain-lain. Metode pengumpulan data ada lima, yaitu studi dokumen, observasi, wawancara, eksperimen, metode tes, dan metode angket.
c. Variabel dan Pengukuran Variabel
Variabel adalah karakteristik tertentu yang mempunyai nilai, skor, atau ukuran yang berbeda untuk unit observasi atau individu yang berbeda. Pengukuran variabel adalah pemberian angka-angka secara nominal terhadap perangkat sosial, individu, dan atau kelompok sesuai aturan dan menetapkan korelasi di antara keduanya secara simbolik.
d. Penentuan Populasi, Sampel, Responden, dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel dapat diambil secara acak sederhana (simple random), proporsional, stratifikasi, purposif, kuota, kluster, insidental, dan bertahap (multistage).
e. Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data, dapat digunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Kedua jenis analisa tersebut tidak harus dipisahkan satu dengan lainnya.
f. Batasan Konsep, Variabel, dan Istilah
Di dalam setiap proposal skripsi, apa pun jenis penelitian yang digunakan, memerlukan penegasan batasan atau pengertian yang operasional dari setiap istilah, konsep, dan variabel yang ada.
g. Waktu dan Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian disajikan dalam bentuk matriks. Jadwal kegiatan penelitian menunjukkan tahap-tahap pelaksanaan penelitian, waktu yang diperlukan, dan perincian kegiatan masing-masing tahap.

– Bagian Akhir
1. Daftar Pustaka
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
2. Lampiran
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

Daftar Pustaka:
Arifin, E. Zaenal. 2006. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah. Grasindo: Jakarta.
Azra, Azyumardi dkk. 2002. Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi. UIN Jakarta Press: Jakarta.
Surya, Sutan. 2006. Panduan Menulis Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah. Pustaka Pena: Yogyakarta.
Widodo. 2005. Cerdik Menyusun Proposal Penelitian Skripsi, Tesis, dan Disertasi Dilengkapi Contoh. MAGNA Script: Jakarta.
Wirartha, I Made. 2006. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi, dan Tesis. Penerbit ANDI: Yogyakarta.

SeLamat Pagi..

1234054687408
ahirnya..aku punya bLog..haha..sebenernya sih karena tugas mata kuLiah SI-LKS..hehe..piis Pak..^^
tapi itung-itung beLajar nuLis juga..^^ jadi harap makLum ya bagi yang sempet baca kaLo bLog ini masih di Luar harapan..semoga ke depannya bisa Lebih baik..SMANGAD!!!^^